ASAS KASIH SAYANG
عن أ نس ر.ض عن النبي ص.م قا ل : لا يؤ من أحد
كم حتي يحب لأ خيه ما تحب لنفسه (رواه البخا ري و مسلم )
“Dari Anas r.a. dari Nabi SAW bersabda: tidak (sempurna) iman
salah seorang dari kamu, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai
disinya sendiri.”(HR. Bukhari dan Muslim)
URAIAN
Hadis tersebut menerangkan tentang kasing sayang seorang muslim
terhadap muslim lainnya yang disebut dengan “mahabbah”.
Mahabbah
itu ada tiga macam :
1.
محبة اللذاة Yaitu
cinta sesuatu karena ada rasa kelezatan seperti cinta suami istri.
2.
محبة النفع Yaitu cinta sesuatu karena bisa
dimanfaatkan
3.
محبةالفضل Yaitu
inta sesuatu karena ada sesuatu yang dipandang lebih, seperti mencintai ulama
karena kelebihan ilmunya.
Kecintaan seorang muslim terhadap muslim lainnya, tercakup semua
macam kecintaan di atas, yang benar-benar harus tumbuh dari hati nuraninya
sehingga iman seseorang itu belum bisa dinilai baik atau murni, sebelum tumbuh
rasa cinta seperti itu, yaitu mencintai orang lain bagaikan mencintai dirinya
sendiri. Dia merasa senang terhadap sesuatu yang bermanfaat buat saudaranya,
dan ia pun akan menghindari sesuatu yang bisa membahayakan saudara-nya dan hal
tersebut teraplikasi dalam kehidupannya. Dengan begitu maka perasaan menjadi
lembut, jiwa sosial menjadi kuat, egoisme bisa lenyap dan kedamaian serta
ketentraman dapat terjamin. Sebaliknya bila orang kehilangan perasaan seperti
di atas, maka kezaliman, pencurian, perampokan, pemerkosaan dan penipuan
merajalela dan takwapun akan lenyap dari hati sehingga diganti dengan
kegelapan, kebengisan, maka hilang pulalah iman (Husaini, 1970,I 411)
Dalam pelaksanaan konseling Islami, konselor harus memiliki kasih
sayang di atas, dia akan berusaha supaya kliennya bisa kembali sehat mentalnya
seperti dirinya sendiri, menjalani kehidupan dengan ketenangan terjauh dari
stres.
Konselor harus menunjukan sikap simpati dan empati terhadap kasus
yang dialami klien, agar tercipta kepercayaan dan keterbukaan pada diri klien
dan sekaligus daya sugesti pada diri konselor.
Lebih jauh Nabi SAW bersabda :
جعل الله الر حمة ما ئة جزء و أنزل من الأ رض
جزا واحد فمن ذلك الجز ء تترا حم الخلا ئق حتي ترفع الدابة حا فرها عن ولدها حتي
خشيه ا ن تصيبه. (رواه البخاري)
“Tuhan telah menjadi sifat kasih sayang
“Ar-Rahmah” seratus bagian, diturunkan ke bumi hanya 1 (satu) bagian, dengan
satu bagian itulah semua makhluk di bumi berkasih sayang, sehingga seekor hewan
mengangkat kakinya dari anaknya karena takut mengenainya.”(HR. Bukhari)
Pada dasarnya sifat kasih sayang
(Ar-Rahmah) adalah fitrah yang dianugerahkan Allah kepada berbagai makhluk.
Pada hewan misalnya, kita perhatikan begitu kasihnya kepada anaknya, sehingga
rela berkorban jika anaknya diganggu, terlebih lagi kasih sayang yang ada pada
manusia dimulai dari kasih sayang orang tua kepada anaknya, dan sebaliknya
kecintaan anak kepada orang tuanya, hingga dalam lingkungan yang lebih luas:
lingkungan keluarga, tetangga kampung, bangsa dan yang amat luas adalah kasih
sayang antara mukmin. (Hamzah Ya’qub, 1983: 123)
Manakala sifat Ar-Rahmah ini
tertanam kuat dalam diri pribadi seseorang, niscaya akan lahirlah berbagai
sikap mahmudah lainnya, antara lain:
1.
Pemurah
(As-Sakha), yaitu sifat suka mengulurkan tangan kedermawanan kepada orang lain
yang menghajatkan. Di sini lahir sikap infaq, yaitu rela membelanjakan harta
bagi kepentingan keluarga dan amal sosial.
2.
Tolong
menolong (at-Ta’wun), yaitu sikap yang senang menolong orang lain, baik dalam
bentuk material maupun dalam bentuk tenaga dan moral.
3.
Pemaaf
(al-‘Afwu), yaitu sifat pemaaf yang tumbuh karena sadar bahwa manusia bersifat dhoi’f
tidak lepas dari kesalahan dan kekhilafan.
4.
Damai
(as-Ishlah), yaitu orang yang jiwanya penuh kasih sayang akan memancar pula
dari padanya sikap suka kepada perdamaian kepada orang yang memusuhinya dan
tidak ingin mencari-cari permusuhan dengan seseorang.
5.
Persaudaraan
(al-Ikha), yaitu dari jiwa yang penuh kasih sayang, mudah diperoleh semangat
persaudaraan. Membangun persaudraan hanya mungkin dilakukan jika dalam jiwa
masing-masing tertanam rasa kasih sayang keada sesama mukmin atau muslim.
6.
Menghubungkan
tali kekeluargaan (silaturahmi), yaitu dari berbagai sifat dan sikap mahmudah
tersebut maka seorang muslim tidak akan senang memutuskan tali kekeluargaan,
melainkan akan terus membinanya melalui berbagi jalan dan cara. (Hamzah Ya’qub,
1983: 125-126). Hal ini sebagaimana dikemukakan Rasulullah SAW :
من كا يؤ من با لله واليوم الآ خر فليصل رحمه. (متفق عليه)
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari kemudian maka hendaklah
ia hubungkan tali kekeluargaannya.”(HR.
Bukhari-Muslim)
KESIMPULAN
Cinta dan kasih sayang menjadi
sangat penting sebagai asas pelaksanaan konseling Islami, karena klien dianggap
sebagai dirinya sendiri, sehingga bantuan (tolong-menolong) diberikan dengan
penuh kasih sayang yang secara psikologis akan menyentuh batin klien dan ini
akan menumbuhkan daya sugesti serta empati bagi konselor.

0 komentar:
Posting Komentar