INAYAH Blogger templates

Tempat Berbagi Kebahagiaan

Sabtu, 27 Mei 2017

ASAS KASIH SAYANG

عن أ نس ر.ض عن النبي ص.م قا ل : لا يؤ من أحد كم حتي يحب لأ خيه ما تحب لنفسه (رواه البخا ري و مسلم )
“Dari Anas r.a. dari Nabi SAW bersabda: tidak (sempurna) iman salah seorang dari kamu, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai disinya sendiri.”(HR. Bukhari dan Muslim)

URAIAN
Hadis tersebut menerangkan tentang kasing sayang seorang muslim terhadap muslim lainnya yang disebut dengan “mahabbah”.
            Mahabbah itu ada tiga macam :
1.      محبة اللذاة     Yaitu cinta sesuatu karena ada rasa kelezatan seperti cinta suami istri.
2.      محبة النفع     Yaitu cinta sesuatu karena bisa dimanfaatkan
3.      محبةالفضل   Yaitu inta sesuatu karena ada sesuatu yang dipandang lebih, seperti mencintai ulama karena kelebihan ilmunya.
Kecintaan seorang muslim terhadap muslim lainnya, tercakup semua macam kecintaan di atas, yang benar-benar harus tumbuh dari hati nuraninya sehingga iman seseorang itu belum bisa dinilai baik atau murni, sebelum tumbuh rasa cinta seperti itu, yaitu mencintai orang lain bagaikan mencintai dirinya sendiri. Dia merasa senang terhadap sesuatu yang bermanfaat buat saudaranya, dan ia pun akan menghindari sesuatu yang bisa membahayakan saudara-nya dan hal tersebut teraplikasi dalam kehidupannya. Dengan begitu maka perasaan menjadi lembut, jiwa sosial menjadi kuat, egoisme bisa lenyap dan kedamaian serta ketentraman dapat terjamin. Sebaliknya bila orang kehilangan perasaan seperti di atas, maka kezaliman, pencurian, perampokan, pemerkosaan dan penipuan merajalela dan takwapun akan lenyap dari hati sehingga diganti dengan kegelapan, kebengisan, maka hilang pulalah iman (Husaini, 1970,I 411)
Dalam pelaksanaan konseling Islami, konselor harus memiliki kasih sayang di atas, dia akan berusaha supaya kliennya bisa kembali sehat mentalnya seperti dirinya sendiri, menjalani kehidupan dengan ketenangan terjauh dari stres.
Konselor harus menunjukan sikap simpati dan empati terhadap kasus yang dialami klien, agar tercipta kepercayaan dan keterbukaan pada diri klien dan sekaligus daya sugesti pada diri konselor.
Lebih jauh Nabi SAW bersabda :

جعل الله الر حمة ما ئة جزء و أنزل من الأ رض جزا واحد فمن ذلك الجز ء تترا حم الخلا ئق حتي ترفع الدابة حا فرها عن ولدها حتي خشيه ا ن تصيبه. (رواه البخاري)
“Tuhan telah menjadi sifat kasih sayang “Ar-Rahmah” seratus bagian, diturunkan ke bumi hanya 1 (satu) bagian, dengan satu bagian itulah semua makhluk di bumi berkasih sayang, sehingga seekor hewan mengangkat kakinya dari anaknya karena takut mengenainya.”(HR. Bukhari)
            Pada dasarnya sifat kasih sayang (Ar-Rahmah) adalah fitrah yang dianugerahkan Allah kepada berbagai makhluk. Pada hewan misalnya, kita perhatikan begitu kasihnya kepada anaknya, sehingga rela berkorban jika anaknya diganggu, terlebih lagi kasih sayang yang ada pada manusia dimulai dari kasih sayang orang tua kepada anaknya, dan sebaliknya kecintaan anak kepada orang tuanya, hingga dalam lingkungan yang lebih luas: lingkungan keluarga, tetangga kampung, bangsa dan yang amat luas adalah kasih sayang antara mukmin. (Hamzah Ya’qub, 1983: 123)
            Manakala sifat Ar-Rahmah ini tertanam kuat dalam diri pribadi seseorang, niscaya akan lahirlah berbagai sikap mahmudah lainnya, antara lain:
1.      Pemurah (As-Sakha), yaitu sifat suka mengulurkan tangan kedermawanan kepada orang lain yang menghajatkan. Di sini lahir sikap infaq, yaitu rela membelanjakan harta bagi kepentingan keluarga dan amal sosial.
2.      Tolong menolong (at-Ta’wun), yaitu sikap yang senang menolong orang lain, baik dalam bentuk material maupun dalam bentuk tenaga dan moral.
3.      Pemaaf (al-‘Afwu), yaitu sifat pemaaf yang tumbuh karena sadar bahwa manusia bersifat dhoi’f tidak lepas dari kesalahan dan kekhilafan.
4.      Damai (as-Ishlah), yaitu orang yang jiwanya penuh kasih sayang akan memancar pula dari padanya sikap suka kepada perdamaian kepada orang yang memusuhinya dan tidak ingin mencari-cari permusuhan dengan seseorang.
5.      Persaudaraan (al-Ikha), yaitu dari jiwa yang penuh kasih sayang, mudah diperoleh semangat persaudaraan. Membangun persaudraan hanya mungkin dilakukan jika dalam jiwa masing-masing tertanam rasa kasih sayang keada sesama mukmin atau muslim.
6.      Menghubungkan tali kekeluargaan (silaturahmi), yaitu dari berbagai sifat dan sikap mahmudah tersebut maka seorang muslim tidak akan senang memutuskan tali kekeluargaan, melainkan akan terus membinanya melalui berbagi jalan dan cara. (Hamzah Ya’qub, 1983: 125-126). Hal ini sebagaimana dikemukakan Rasulullah SAW :

من كا يؤ من با لله واليوم الآ خر فليصل رحمه. (متفق عليه)
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari kemudian maka hendaklah ia hubungkan tali kekeluargaannya.”(HR. Bukhari-Muslim)

KESIMPULAN

            Cinta dan kasih sayang menjadi sangat penting sebagai asas pelaksanaan konseling Islami, karena klien dianggap sebagai dirinya sendiri, sehingga bantuan (tolong-menolong) diberikan dengan penuh kasih sayang yang secara psikologis akan menyentuh batin klien dan ini akan menumbuhkan daya sugesti serta empati bagi konselor.
Posted by nur isnaeni on 07.29 in    No comments »

0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter

Search