A.
Tahapan-tahapan Manual Dan Prosedur Microtraining
1.
Perilaku Attending (Menghampiri Klien)
a.
Rasional
Perilaku attending dapat juga dikatakan sebagai penampilan
konselor yang menampakkan komponen-komponen perilaku nonverbal, bahasa lisan,
dan kontak mata.Karena komponen-komponen tersebut tidak mudah, perlu dilatihkan
bertahap dan terus menerus.
Perilaku attending yang ditampilkan konselor akan
mempengaruhi kepribadian klien yaitu:
1)
Meningkatkan
harga diri klien, sebab sikap dan perilaku attending memungkinkan
konselor menghargai klien. Karena dihargai, maka merasa harga diri ada atau
meningkat.
2)
Dengan
perilaku attending dapat menciptakan suasana aman bagi klien, karena
klien merasa ada orang yang bisa dipercaya, teman untuk berbicara, dan merasa
terlindungi secara emosional.
3)
Perilaku
attending memberikan keyakinan kepada klien bahwa konselor adalah tempat
dia mudah untuk mencurahkan segala isi hati dan perasaannya.
b.
Tujuan
Latihan mikro perilaku attending (penampilan) bertujuan agar
calon konselor dapat memperlihatkan penampilan yang attending di berbagai
situasi hubungan interpersonal secara umum, khususnya dalam relasi konseling
dengan klien.
c.
Tingkat Pencapaian
1)
Calon
konselor dapat mengidentifikasi perilaku attending yang baik dan yang
kurang baik.
2)
Calon
konselor dapat menggunakan perilaku attending yang baik di berbagai
hubungan interpersonal terutama konseling.
d.
Materi
1)
Posisi
pengawakan badan yang terdiri dari posisi tubuh, jarak konselor-klien, sikap
duduk.
2)
Keadaan
muka yaitu keadaan ekspresi wajah, keadaan kontak mata.
3)
Tangan
dan lengan yang terdiri dari variasi gerakan tangan/lengan, menggunakan tangan
sebagai isyarat, menyentuh, melakuan gerakan sebagai penekanan.
4)
Mendengarkan,
yaitu bagaimana konselor mendengarkan kepada klien, apakah dia melakukan diam
pada saat tertentu, dan bagaimana perhatiannya terhadap klien.
e.
Prosedur atau Proses Latihan
Sebelum diadakan latihan maka prosedur latihan harus dipahami oleh
semua peserta.
1)
Pelatih
atau pembimbing memberikan informasi tentang latihan secara rinci, dan kemudian
memberikan motivasi kepada peserta agar mengikuti latihan dengan minat dan
perhatian yang sungguh-sungguh.
2)
Membentuk
pasangan-pasangan peserta, untuk mengadakan permainan peran dalam konseling
mikro
3)
Setiap
pasangan tadi melakukan kegiatan-kegiatan yang diinstruksikan oleh pelatih
yaitu:
-
Pertama,
duduk saling membelakangi, kemudian seorang berbicara dan lainnya mendengaran
dengan perhatian. Kemudian dilakukan latihan sebaliknya (memperhatikan keadaan
muka, kepala, kontak mata, posisi tubuh, keadaan tangan dan bagaimana
perhatiannya).
-
Kedua,
duduk berhadapan. Seseorang berbicara dan yang lainnya mendengarkan dengan
perhatian, dengan memperhatikan hal-hal diatas tadi.
-
Ketiga,
duduk menyamping, sama dengan di atas.
-
Keempat,
duduk berhadapan, sedangkan peserta yang satunya memalingkan mukanya. Bagaimana
reaksi peserta kedua?
-
Kelima,
duduk berhadapan, saling melakukan kontak mata.
-
Keenam,
duduk berhadapan peserta pertama berbicara melakukan kontak mata, dan yang lain
mendengarkan, dan memperhatikan.
4)
Mengadakan
diskusi yang dipimpin oleh pembimbing dengan materi masalah yang ditemukan oleh
masing-masing peserta tentang penampilan pasangan tadi.
5)
Mengadakan
evaluasi apakah manfaat latihan bagi peserta untu tugas dan pergaulannya.
6)
Membentuk
kelompok tiga orang, konselor-klien-pengamat. Konselor memerankan posisi duduk,
ekspresi muka, gerak tangan, kontak mata, perhatian, mendengarkan, dan
berbicara.
7)
Pengamat
dan penonton berdiskusi dan menilai penampilan calon konselor.
8)
Tugas
rumah: setiap peserta bersama pasangannya atau teman lain melakukan praktik di
rumah, merekam, dan membuat laporan.
9)
Untuk
kelancaran tugas latihan, pelatih, pembimbing, pengamat, dan penonton, diberi
lembar evaluasi latihan. Dengan memberi tanda cek (baik, sedang, kurang), pada
lembar evaluasi tersebut, maka akan dapat diketahui tingkat keberhasilan
seorang peserta.
Berikut ini
dikemukakan model lembar evaluasi perilaku attending calon konselor.
NAMA PESERTA:……………...……………TANGGAL:………….………..
No
|
Aspek
yang Dinilai
|
Pengamat
I
|
Pengamat
II
|
Pembimbing
|
I
|
MUKA
1.
Ekspresi
wajah
2.
Mata
|
|||
II
|
KEPALA
1.
Anggukan
2.
Posisi
|
|||
III
|
POSISI TUBUH
1.
Pengawakan
tubuh
2.
Jarak ko-kl
3.
Posisi duduk
|
|||
IV
|
TANGAN/LENGAN
1.
Variasi
gerakan
2.
Isyarat
3.
Menyentuh
4.
Gerakan untuk
menekankan ucapan
|
|||
V
|
MENDENGARKAN
1.
Kesabaran
2.
Diam
3.
Perhatian
|
Tabel
9. 1: Model Lembar Evaluasi
Catatan :
Penilaian dengan menggunakan hurup B (baik), S (sedang), dan K
(kurang)
Untuk
mengetahui baik atau kurang aspek-aspek yang dinilai, maka berikut ini
dikemukakan mana aspek yang baik dan mana aspek yang dianggap kurang yang
ditampilkan seorang peserta latihan.
Penampilan
dengan menggunakan kriteria baik artinya bahwa calon telah menampilkan perilaku
attending sesuai dengan asumsi teoritis yang dibutuhkan oleh klien.
Suatu penampilan konselor yang attending tentu akan membuat klien
senang, betah, dan mau terlibat dalam pembicaraan dengan konselor secara
terbuka.
NO
|
ASPEK
|
BAIK
|
TIDAK
BAIK
|
I.
|
MUKA
1.
Ekspresi
wajah
2.
Mata
|
Cerah, ceria, tenang
Melakukan kontak mta, alamiah/spontan, melihat saat yang lain berbicara
|
Kaku, muram, melamun
Mengalihkan pandang, terutama saat yang lain berbicara
|
II.
|
KEPALA
1.
Anggukan/geleng
2.
Posisi
|
Melakukan anggukan jika setuju, menggeleng jika tak setuju
Tegak
|
Kaku
Miring/ke belakang/menunduk
|
III.
|
POSISI TUBUH
1.
Pengawakan
tubuh
2.
Jarak
3.
Posisi duduk
|
Agak condong ke arah klien
Agak dekat ke klien
Akrab, berhadapan, atau menyamping
|
Tegak/kaku, bersandar atau miring
Menjauh
Berpaling, kurang akrab
|
IV.
|
TANGAN/LENGAN
1.
Variasi
gerakan
2.
Isyarat
3.
Menyentuh
4.
Gerakan untuk
menekankan ucapan
|
Gerakan berubah-ubah sesuai keadaan
Digunakan
Jika perlu
Untuk menekankan ucapan konselor
|
Kaku, monoton
Tidak bertujuan
Tak karuan
Tanpa makna
|
V.
|
MENDENGARKAN
1.
Kesabaran
2.
Diam
3.
Perhatian
|
Sampai ucapan klien selesai
Menanti saat yang tepat
Terarah lawan bicara
|
Memutus pembicaraan klien
Berbicara terus tanpa diam
Terpecah, buyar
|
Tabel 9. 2: Perilaku
Attending Konselor
2.
Empati
a.
Rasional
Kehidupan dunia dalam klien merupakan rahasia yang sulit untuk
ditembus.Bahkan keadaannya begitu berlapis.Klien yang kita hadapi sering tampil
hanya dipermukaan saja, dan jarang menampilkan dunia dalam mereka.Kecuali
terhadap orang yang sangat dipercayai.
Orang yang dipercayai oleh klien adalah yang memahami dan dapat
merasakan perasaan, pengalaman, serta pikiran klien.Konselor yang empati mudah
memasuki dunia dalam klien sehingga klien tersentuh dengan sikap
konselor. Akhirnya klien akan terbuka dengan jujur terhadap konselor.
Seorang calon konselor harus dilatih agar peka terhadap perasaan
klien, memahami pikirannya, dan mampu merasakan perasaan dan pengalaman
klien.Untuk mencapai hal tersebut maka dilatihkan teknik empati. Latihan
tersebut mencakup ungkapan perasaan konselor mengenai perasaan, pengalaman,
pikiran (keadaan dunia dalam klien) baik dengan cara biasa (primary empathy-PE)
maupun dengan cara yang lebih mendalam/menyentuh (advance accurate empathy-AAE).
b.
Tujuan
Latihan empati
bertujuan agar calon konselor mampu memasuki dunia dalam klien melalui
ungkapan-ungkapan empati (PE dan AAE) yang menyentuh perasaan klien. Jika
demikian keadaannya maka klien akan terbuka dan mau mengungkapkan dunia
dalamnya lebih jauh baik terbentuk perasaan, pengalaman, dan pikiran.
c.
Materi
1)
Latihan
mengosongkan diri calon konselor dari perasaan dan pikiran egoistik, dan masuk
ke dalam diri klien dengan merasakan apa yang dirasakan klien, berpikir
berasama klien dan bukan merasakan dan memikirkan tentang klien.
2)
Melakukan
empati primer (PE) dengan mengungkapkan
-
“Saya
dapat merasakan apa yang anda rasakan”
-
“Saya
memahami apa yang telah anda lakukan”
-
“Saya
mengerti apa yang anda inginkan”
3)
Melakukan
empati tingkat tinggi (AAE) dengan mengatakan
-
“Saya
ikut terluka dengan penderitaan anda. Namun saya juga bangga dengan kemampuan
daya tahan anda.”
-
“Saya
seperti hadir di sana saat anda mengalaminya, saya bangga dengan keberhasilan
anda.”
-
“saya
ikut terhina dengan pengalaman keji yang anda alami namun saya salut terhadap
keuletan anda membela kebenaran.”
-
“Saya
ikut kecewa dengan perlakuannya terhadap anda, namun saya yakin anda masih
mempunyai iman utuk melupakannya.”
Contoh
:
Kl: “Orang tua terutama ayah amat benci dan terpukul dengan
kejadian ini. Beliau bahkan telah mengusir saya. Namun di pihak lain Roni tidak
mau bertanggung jawab dengan perbuatannya. Dia memaksa saya untuk menggugurkan
jabang bayi ini.Hati nurani saya tidak tega, bayi ini mesti hidup, dan dia
tidak bersalah.”
Ko: “Saya tidak terluka dengan penderitaan saudari. Namun saya
sangat salut dan menghargai sikap kemanusiaan anda yang tinggi terhadap calon
bayi itu.”
4)
Proses Latihan
-
Siapkan
pasangan-pasangan peserta dan pengamat. Setiap pasang mempelajari dialog-dialog
empati yang sudah disiapkan oleh pembimbing.
-
Pelatih/pembimbing
menjelaskan materi dan proses latihan.
-
Menonton
video empati (kalau ada)
-
Pasangan
–pasangan peserta berperan sebagai konselor dan klien. Konselor mengosongkan
diri dari sifat egois dan melihat ke dunia dalam klien.
-
Konselor
dan klien melakukan dialog empati.
-
Pengamat
mengamati perilaku verbal dan nonverbal konselor.
-
Diadakan
diskusi dan evalusi bersama hasil pengamatan para pengamat, pembimbing, dan
kelas. Pembimbing dan pengamat mengevaluasi dengan menggunakan alat evaluasi.
Evaluasi berkisar pada aspek.Perilaku
attending (verbal dan nonverbal), kemampuan melakukan teknik empati primer (primary
empathy) dan empati tingkat tinggi yang akurat (advancd accurate empathy).
Dalam melakukan teknik empati pengamat
harus secara tajam mengamati bahasa tubuh konselor. Jika bahasa tubuhnya
dilakukan dengan baik, maka akan menunjang terhadap teknik empati. Selanjutnya
akan membantu klien terbuka dan terlibat didalam hubungan konseling.
Berikut ini
adalah contoh alat evaluasi untuk menilai perilaku dan teknik empati calon
konselor.[1]
No
|
Aspek
|
Penilaian/Masukan
|
|||
Pengamat I
|
Pengamat II
|
Pembimbing
|
Ket.
|
||
I
|
PL. ATTENDING
1.
Ekspresi
wajah
2.
Kontak
mata
3.
Posisi
tubuh
4.
Jarak
duduk
5.
Posisi
tangan
6.
Mendengarkan
7.
Perhatian
|
||||
II
|
EMPATI PRIMER
1.
Ekspresi
perasaan masuk dunia dalam klien
2.
Santai-serius
3.
Ucapan
kalimat empati
|
||||
III
|
AAE
1.
Ekspresi
perasaan
2.
Santai-serius
3.
Ucapan
kalimat AAE
|
||||
Table 9.3: Alat Evaluasi
Latihan Empati
3.
Refleksi
Salah satu cara
terbaik untuk membantu klien merasa bahwa Anda mendengarkan keluh kesah mereka
dan memahami apa yang mereka sampaikan pada Anda adalah merefleksikan kembali
kepada mereka isi dari hal-hal yang mereka bicarakan. Refleksi untuk bentuk-bentuk
perasaan memiliki kegunaan yang berbeda. Ketika kita merefleksikan perasaan
kita menunjukkan pada seseorang bahwa kita berempati terhadapnya dan memahami
apa yang mereka rasakan. Menurut pendapat kami, refleksi untuk perasaan adalah
salah satu keterampilan mikro yang paling bermanfaat ketika dipraktikkan dengan
benar dan pada saat yang tepat selama proses konseling.
Refleksi
perasaan serupa tetapi tak sama dengan parafrasa. Kemiripannya ada pada
tindakan pe-refleksi-an informasi yang diberikan oleh klien kepada klien
sendiri.Perbedaanya adalah bahwa refleksi perasaan merefleksikan kepada klien
ekspresi-ekspresi emosionalnya sementara parafrasa merefleksikan kepada klien
informasi -informasi dan pikiran-pikiran yang menggambarkan isi pembicaraam
klien.[2]
a.
Rasional
Refleksi adalah suatu jenis teknik konseling yang penting dalam
hubungan konseling.Yaitu sebagai upaya untuk menangkap perasaan, pikiran, dan
pengalaman klien kemudian merefleksikan kepada klien kembali. Hal ini harus
dilakukan konselor sebab sering klien tidak menyadari akan perasaan, pikiran,
dan pengalamannya yang mungkin menguntungkan atau merugikannya.
Jika dia menyadari akan perasaannya, maka klien mungkin akan segera
mengubah perilakunya ke arah positif. Namun tidaklah mudah bagi seorang calon
konselor untuk menangkap dan memahami perasaan dan pikiran serta pengalaman,
lalu mengungkapkannya kembali kepada klien dengan bahasa calon konselor
sendiri.Karena itu seorang calon konselor haruslah dilatih secara terus menerus
dan bertahap mengenai keterampilan refleksi ini.
b.
Tujuan Latihan
Latihan
refleksi bertujuan untuk memberikan kemampuan dan keterampilan kepada calon
konselor agar dia dapat merefleksikan perasaan, pikiran, dan pengalaman klien
melalui pengamatan perilaku verbal dan nonverbal.
c.
Materi
1)
Pengamatan
bahasa lisan klien.
2)
Pengamatan
perilaku nonverbal.
3)
Merefleksikan
perasaan, pikiran, atau pengalaman klien dengan bahasa konselor yang dimulai:
-
“Nampaknya
yang anda katakan adalah…”
-
“Barangkali
anda merasa…”
-
“Hal
itu rupanya seperti…”(paraphrase)
-
“Kelihatannya
yang anda maksudkan adalah…”
-
“Nampaknya
anda mengalami…”
Contoh
1 : (dalam dialog konseling).
Kl: “Saya takut masuk sekolah karena guru akan memarahi saya.
Tapi jika saya tidak masuk sekolah pasti ayah saya akan marah besar.”
Ko: “Nampaknya
anda sungguh merasa sangat tertekan saat ini.”
Contoh
2 :
Kl: “Guru itu sialan, saya membencinya, saya tidak akan
mengerjakan PR-nya. Saya tidak akan mengerjakan bagaimanapun juga.”
Ko: “Tampaknya
anda sungguh-sungguh marah”
Contoh
3 :
Kl: “ saya mau menyatakan harapan kepadanya. Tapi saya takut
kalau cinta saya ditolak. Mau minta bantuan orang lain, saya merasa malu.”
Ko: “Nampaknya
anda dalam keadaan bingung.”
Contoh
4 :
Kl: “Makin hari kehidupan kami makin sulit. Bahkan berita
terakhir rumah kami akan digurus, sedangkan bapak saya jadi sakit-sakitan.”
Ko: “Tampaknya
anda mengalami penderitaan yang amat hebat.”
d.
Prosedur Latihan
-
Pembimbing
menuliskan beberapa ucapan klien dan calon konselor berusaha merespon dengn
refleksi perasaan, pengalaman, dan ide (content).
-
Buat
kelompok dua orang ditambah tiga pengamat. Seorang menjadi klien mengucapkan
kalimat, dan calon konselor merespon dengan refleksi.
-
Para
pengamat menilai perilaku refleksi calon konselor, dan selanjutnya diadakan
diskusi kelas atau kelompok.
4.
Eksplorasi
a.
Rasional
Sering klien
sulit untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, dan pengalamannya kepada konselor
karena merasa malu, takut, segan, curiga, tertutup, dan berbagai gelaja lain.
Perlu diingat bahwa faktor budaya sebagai bangsa bekas terjajah banyak anggota
masyarakat yang kurang berani bicara terbuka untuk mengeluarkan isi hati dan
perasaannya terhadap orang lain termasuk keluarga sendiri.
Disamping itu
kepemimpinan yang otoriter dimasyarakat, keluarga dan sekolah membuat seseorang
merasa takut dan malu jika akan menyatakan pendapat atau perasaan sendiri,
apalagi terhadap penguasa.
Hubungan
konseling seharusnya dapat mengatasi semua kendala di atas.Yaitu berupaya untuk
membuat kliennya terbuka, merasa aman dan berpartisipasi di dalam dialog.Salah
satu upaya konseling adalah menggunakan teknik eksplorasi yaitu upaya untuk
membuat klien mengatakan semua perasaan, pikiran, dan pengalaman kepada
konselor secara jujur.
Untuk menguasai
teknik eksplorasi secara baik, maka para calon konselor harus diberikan latihan
konseling mikro dalam teknik eksplorasi tersebut.
b.
Tujuan Latihan
Latihan
konseling mikro eksplorasi bertujuan :
-
Agar
calon konselor mampu menyusun kata atau kalimat yang dapat menggugah perasaan,
pikiran, atau pengalaman kien, sehingga dia menjadi terbuka untuk menjelaskan
secara rinci.
-
Agar
calon konselor berlatih untuk membuat klien merasa aman, jujur, terbuka, untuk
mendiskusikan tentang diri dan masalahnya.
c.
Tingkat Keberhasilan
Dikatakan
bahwa seorang calon konselor berhasil dalam latihan mikro adalah manakala:
1)
Calon
konselor mampu berkomunikasi dengan klien dengan menggunakan kata/kalimat yang
dapat menggugah perasaan, pikiran, dan pengalamannya sehingga dengan jujur
mengunkapkan dalam dan rinci.
2)
Agar
calon konselor mampu membuat asa aman terhadap dii klien sehingga dia terbuka,
jujur, dan berpartisipasi dalam konseling.
d.
Materi Latihan
1)
Latihan
membuat kalimat-kalimat atau kata-kata yang mampu kiranya menggali perasaan,
pikiran, dan pengalaman klien. Misalnya dengan menggunakan kalimat-kalimat:
-
“Apakah
yang anda rasakan saat ini?”
-
“Bisakah
mengungkapkan perasaan kecewa anda secara rinci?”
-
“Bagaimana
pengalaman pahit itu anda alami?”
-
“Dapatkan
saudara mengungkapkan pendapatnya tentang hal itu?”
2)
Latihan
membuat konselor agar merasa aman, jujur, dan terbuka. Yaitu dengan
mengungkapkan pribadi yang jujur, terbuka, dan pelindung. Misalnya:
-
“Anda
akan merasa aman di sini, karena saya akan memelihara rahasia pribadi
anda.”,atau
-
“Saya
percaya bahwa anda akan berkata jujur dan tulus tentang hal itu.”
e.
Prosedur Latihan
-
Bentuk
kelompok berpasangan dan tiga pengamat. Pasangan adalah untuk bermain peran
sebagai konselor dan klien.
-
Berikan
materi yang akan dilatihkan yaitu berupa dialog singkat konselor dengan klien
yang bernuansa perasaan, pikiran, atau Menangkap pengalaman.
-
Calon
konselor dan klien mempraktekkan kalimat dialog tersebut, termasuk upaya untuk
membuat perasaan aman klien.
-
Para
pengamat mengadakan penilaian
-
Kemudian
diadakan diskusi.[3]
5.
Pesan Utama (Paraphrasing)
Tugas utama konselor adalah
bersungguh-sungguh mendengarkan dengan
sikap yang menunjukkan ketertarikan sehingga klien betul-betul
yakin bahwa mereka didengar dan dipahami. Tetapi tentu saja memerhatikan klien
dan menyesuaikan diri dengan perilaku non-verbalnya saja tidak akan cukup.
Konselor juga harus merespon secara aktif,dan dengan melakukan ini ia kemudian
dapat menarik detail - detail yang benar-benar penting dari hal-hal yang
dikatakn oleh klien dan memperjelas detail-detail tersebut kepada klien. Cara
yang paling umum dan paling efektif dalam merespons adalah menggunakan
keterampilan yang dinamakan dengan memparafrasakan
isi atau refleksi isi.
Ketika menggunakan keterampilan ini,
konselor memparafrasakan atau merefleksikan kepada klien apa yang telah
dikatakannya kepada konselor. Tetapi disini konselor bukan sekadar membeo atau
mengulangi kata-kata yang telah diucapkan. Yang harus ia lakukan adalah
mengambil detail-detail isi pembicaraan klien yang paling penting dan kemudian
mengungkapkannya kembali dengan kata-kata konselor sendiri, buka menirukan kata
-kata klien.[4]
a.
Rasional
Sering terjadi
klien sulit mengarahkan pembicaraan dan menekankan tentang pokok-pokok
permasalahannya.Hal ini karna dia terlampau emosional atau memang kurang
pengetahuan bagaimana memecahkan persoalan sendiri.
Untuk mengatasi
hal ini perlu ada upaya konselor agar inti pembicaraan klien bisa ditangkap dan
dibahasakan dengan sederhana serta mudah dimengerti oleh klien.Karena itu calon
konselor perlu dilatih untuk menangkap pesan utama klien atau disebut juga
teknik paraphrasing.
b.
Tujuan Latihan
-
Untuk
dapat menangkap isi pesan utama yang disampaikan klien, konselor harus menggunakan
kata-kata atau kalimat sendiri yang sederhana dan mudah dipahami klien.
Konselor berusaha untuk mengatakan kembali esensi ungkapan klien.
-
Untuk
mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor ada bersama dia dan berusaha
memahami apa yang dikatakan klien.
-
Mengedepankan
apa yang dikatakan klien dalam bentuk ringkasan. Konselor berusaha memahami apa
yang dikatakan klien.
-
Memberi
arah terhadap jalannya wawancara konseling.
-
Pengecekan
kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien.
c.
Materi Latihan
Paraphrasing yang baik adalah menyatakan kembali pesan utama klien
secarra sama dan dengan kalimat yang sederhana. Biasanya ditandai dengan awal
kalimat apakah dan nampaknya.
Contoh
:
-
“apakah
yang anda katakan bahwa…”
-
“nampaknya
yang anda katakan adalah…”
-
“jadi
anda berpikiran bahwa…”
Berikut ini contoh dialog konselingnya :
Kl: “Biasanya
dia selalu senang dengan saya, tiba-tiba sekarang memusuhi saya.”
Ko: “Apakah
yang anda katakan bahwa perilakunya tidak konsisten terhadap anda?”
Dalam latihan
konseling mikro seorang calon konselor berusaha membuat pernyataan yang
baik.Karena itu dia seharusnya melakuan hal-hal berikut ini.
(a)
Dengan
teliti mendengarkan pesan utama klien.
(b)
Nyatakan
kembali kepda klien dengan ringkas, sederhana, dan bahasa yang mudah.
(c)
Amati
apakah klien memberi respon yang tegas terhadap pernyataan anda.
d.
Tingkat Keberhasilan Latihan
Dikatakan bahwa latihan berhsil jika calon konselor dapat
menggunakan paraphrasing yang baik setelah melalui tes tertulis maupun melalui
pengamatan langsung pada hubungan konseling.
e.
Prosedur Latihan
Bagilah
peserta ke dalam kelompok lima orang konselor-klien dan tiga pengamat.
-
Klien
membuat pernyataan mengenai dirinya paling banyak hingga tiga kalimat.
-
Konselor
menggunakan formula:
”apakah
yang anda katakan bahwa…”
“nampaknya
yang anda katakan adalah…”, atau
“jadi
yang anda katakan adalah…”.
-
Pengamat
bertugas mencatat dan memberi umpan balik bagi calon konselor, jdi bis juga
membantu calon konselor membuat kalimat yang sesuai.
-
Pembimbing
memberikan tangggapan jika masih kurang.[5]
Tanggapan yang penuh pemahaman yang
bersifat merefleksikan apa yang diungkapkan pengirim pesan menunjukan bahwa
kita mempunyai insenti untuk memahamo pikiran dan perasaannya. Tanggapan yang
secara ringkas kita sebut sebagai memahami ini tepat untuk kita gunakan paling
idak dalam situasi – situasi berikut.[6]
a.
Kita
belum yakin bahwa kita blum memahami pikiran dan perasaan pengirim pesan.
b.
Kita ingin meyakinkannyabahwa kita mendengar apa
yang baru diungkapkannya.
c.
Kita
ingin meyakinkannya bhwa kita sungguh-sungguhberusaha memahami pikiran-pikiran
dan perasaan-perasaannya.
6.
Bertanya Membuka Percakapan
a.
Rasional
Jika
seorang klien tak mampu menyatakan isi hati dan perasaanya. Maka konselor
saatnya mengunakan pertanyaan terbuka
agar percakapan bisa dilakukan oleh klien. Namun tidak mudah membuat
pertanyaan terbuka. Karena harus memulai dengan kata-kata yang membuka, bukan
menutup seperti mengapa, apa sebab,
kenapa dan sebagainya. kata awal yang mungkin membuka pertanyaan adalah apakah, adakah,bolehkah,bagaimana.
b.
Tujuan
Teknik pertanyaan untuk membuka percakapan bertujuan agar calon
konselor terampil menggunakan pertanyaan yang memungkinkan munculnya pertanyaan
–pertanyaan baru(open-ended question).
c.
Materi
Pertanyaan terbuka yang baik yaitu:
1)
Menolong
untuk memulai bicara:
Contoh:
-
“Apa
yang ingin anda kemukakan sekarang?”
-
“Bagaimana
keadaan anda sesudah pertemuan kita terahir?”
2)
Membantu
klien untuk mengelaborasikan(mengungkapkan) tentang dirinya.Contoh:
-
“Dapatkah
anda mengucapkan lebih banyak lagi tentang hal itu kepada saya?”
-
“Bagaimana
perasaan anda ketika hal itu terjadi?”
3)
Membantu
klien untuk memberi contoh perilaku spesifik yang dapat difahami.
Contoh:
-
“Bagaimana
perasaan anda tentang apa yang anda katakan kepada saya?”
-
“Bagaimana
perasaaan anda selanjutnya?”
d.
Prosedur Latihan
-
Pelajari
terlebih dahulu materi.
-
Buat
pasangan-pasangan peserta dan pengamat.
-
Pasangan
peserta yang memerankan konselor mempersiapkan materi percakapan yaitu:
1)
Pertanyaan
terbuka:
2)
Pertanyaan
tertutup:
7.
Dorongan Minimal
a.
Rasional
Klien sering tersendat dalam mengungkapkan emosinya. Hal ini di
sebabkan rasa tertekan yang kuat. Untuk
memudahkan emosi itu keluar, maka teknik memberi dorongan minimal dapat
dipergunakan oleh konselor.
b.
Tujuan Latihan
-
Agar
calon konselor berlatih mengunakan
dorongan minimal dalam rangka mempelancar ucapan-ucapan klien.
-
Mengunakan
teknik attending agar klien lebih mudah berbicara
c.
Materi
Yaitu mengunakan ungkapan-ungkapan seperti:oh….?, Dan…?, Lalu…?
Terus…?, Wah…?, Dan sebagainya.
d.
Prosedur Latihan
-
Kelompokkan
dua-dua para peserta, dan seorang pengamat.
-
Klien
mengucapkan kalimat terputus dengan emosionalyang berat.
-
Konselor
memberi dorongan minimal dan perilaku attending.
Contoh :
Kl:”Saya…ti…dak sanggup menahan pend…deri..taan”.
Ko:”Mmh…, teruskan….”
8.
Interprestasi
a.
Rasional
Untuk menentukan alternatif pilihan dalam mengambil keputusan,
seorang klien sering kebingungan karena kurangnya rujukan atau referensi.Karena
itu konselor yang professional harus menjadi rujukan klien.
Salah satu upaya untuk memudahkan klien merujuk kepada teori atau
pemahaman yang ilmiah adalah dengan menggunakan teknik interpretasi.Yaitu
konselor mengulas atau menafsirkan pemikiran.dan pengalaman klien secara objektif, ilmiah dan atas dasar teori-teori.
Tentu menginterpretasi itu tidak mudah terutama bagi konselor
pemula, karena dibutuhkan landasan-landasan teoritis.
b.
Tujuan
Latihan
konseling mikro teknik interprestasi bertujuan:
-
Agar
calon konselor mampu mengulas pemikiran, perasaaan, dan pengalaman klien secara
ilmiah (berlandas teori)
-
Agar
calon konselor mampu menyusun kalimat-kalimat ulasan atau tafsiran yang ilmiah
sehingga membangkitkan minat klien untuk membuat alternatife lain yang lebih
objektif
c.
Taraf Kebehasilan Latihan
1)
Calon
konselor mampu menyusun kalimat ulasan /tafsiran terhadap fikiran, perasaan,
dan pengalaman klien secara ilmiah
2)
Calon
konselor mampu mengembangkan ulasan/tafsirannya berlandasan teori-teori
psikologi, konseling, budaya, sosiologi, administrasi, dan sebagainya.
d.
Materi
1)
Mengembangkan
tafsiran dan ulasan yang berlandasan teori-teori seperti, bimbingan dan
konseling, pendidikan, psikologi, sosiologi, dan sebagainya.
Contoh:
Analisis
perkembangan pribadi klien berdasarkan pribadi klien berdasarkan umur biologis, keadaan social-psikologis
kluarga
klien dan keadaan proses belajar siswa di sekolah
Misalnya:
“Melanjutkan ke perguruan tinggi adalah cita-cita yang baik. Dan
orang yang hanya tamat SLTP saja saat ini mungkin akan kalah bersaing dengan
oranglain terutama di kota besar. Sekarang adalah masaindustrialisasi dimana
keunguulan sumberdaya manusia amat penting.jadi sebaiknya kamu memikirkan jika
kamu hanya bercita-cita hanya tamat SLTP saja”
2)
Melatih
konselor untuk menyusun kalimat-kalimat mengenai interpretasi terhadap
pernyataan klien yang mungkin amat perlu ditafsirkan.
e.
Prosedur Latihan
-
Buatlah
pasangan-pasangan konselor-klien di tambah tiga pengamat.
-
Mengadakan
latihan interprestasi dimana klien mengatakan seseutu dan calon konselor
memberikan interprestasi(sebelumnya telah dibuat oleh pembimbing sebuah contoh
dialog. kemudian para peserta mencoba
membuat contoh-contoh lain untuk di gunakan dalam latihan mikro)
-
Selesai
latihan diadakan diskusi berdasarkan masukan dari para pengamat dan peerta
lain.
9.
Mengarahkan
a.
Rasional
Adalah suatu keterampilan konseling yang mengatakan kepada klien
agar dia berbuat sesuatu. Sering klien kurang mampu melakukan sesuatu tanpa
petunjuk orang lain. Hal ini karena factor emosional.kurang konsentrasi, atau
terlalu banyak ngawur sehingga menyimpang dari pokok pembicaraan.
Mengarahkan (directing) merupakan teknik konseling yang akan
membuat klien terarah kepada tujuan konseling.
b.
Tujuan Latihan
-
Melatih
calon konselor agar mengajak/mangarahkan klien dengan sikap attending
untuk mampu berbuat sesuatu
-
Agar
calon konselor mampu menyusun kalimat-kalimat yang bernada mengajakatau
mengarahkan dengan halus sehingga klien terasa tersugesti untuk berbuat sesuai
arahan konselor itu.
c.
Materi
1)
Latihan
sikap attending sambil mengajak
Contoh:
-
“Dapatkah
saudara bersikap lebih jelas dan terarah dalam tugas sekolah yang sedang anda
lalui?”
-
“Bagaimana
kongritnya sikap tak bersahabat yang anda alami dengan dia?”
-
“Apakah
saudara tahu apa ang anda inginkan dengan pembicaraan ini?”
2)
Latihan
menyusun kalimat mengarahkan. Dapat dalam bentuk bertanya seperti: dapatkah
anda…., atau dalam bentuk peryataan seperti barang kali saudara dapat…,
dan sebagainya.
e.
Prosedur Latihan
-
Buat
pasangan–pasangan peserta yang terdiri dari konselor dank lien untuk bermain
peran dalam proses konseling. Tambahkan dengan tiga pengamat.
-
Adakan
latihan diaolog konseling dengan materi yang telah disediakan oleh pembimbing
atau di susun sendiri oleh peserta.
-
Setelah
latihan adakan diskusi dan penilaian setelah banyak masukan dari pengamat dan
peserta lain.
10. Menyimpulkan Sementara
a.
Rasional
Dalam suatu diskusi dengan klien sering banyak butiran yang muncul.
Sehingga kadang-kadang menyulitkan klien untuk menarik makna dari sana. Karena
itu konselor harus mampu membuat kesimpulan sementara bersama klien agar
mempertajam masalah, meningkatkan kualitas, maju ketaraf selanjutnya kearah
tujuan, menyimpulkan hal-hal yang dibicarakan, dan klien memperoleh kilas balik
dari hasil pembicaraan sehingga dia tahu bahwa konseling makin maju.
b.
Tujuan
-
Agar
calon konselor terlatih membuat kesimpulan-kesimpulan dalam suatu diskusi
dengan melibatjan klien
-
Agar
calon konselor mampu menyusun kalimat ajakan terhagap klien untu membuat
kesimpulan sementara dari hasil diskusi.
c.
Materi
1)
Latihan
membuat kesimpulan dari suatu percakapan. Contoh pembimbing memberikan sebuah
dialog dan calon konselor menyimpulkannya.
2)
Latihan
menyusun kalimat ajakan untuk menyimpulkan pembicaraan.
Contoh:
-
“Setelah
lebih dari lima belas menit kita berdiskusi, adakah hal-hal yang mungkin dapat
anda simpulkan?”
-
“Sampai
disini kesimpulan yang bisa kita ambil adalah…”
d.
Prosedur Latihan
-
Buatlah
pasangan-pasangan peserta untu berlatih bermain peran dalam teknik menyimpulkan
sementara. Pembimbing memberikan materi latihan atau hasil susunan para peserta
untuk dimainkan.
-
Setelah
terjadi permainan peran dialog konseling dengan teknik menyimpulkan, maka
diadakan diskusi dan penilaian dengan pertimbangan bahan masukan dari pengamat
dan peserta.[7]
[1]Sofyan S.
Willis, Konseling Individual Teori dan Praktek. ( Bandung: Alfabeta,
2014) hal. 176-184.
[2]Kathryn Geldard
dan David Geldard, Keterampilan Praktik Koseling Pendekatan Integratif.(Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2011), hal. 81.
[3]Sofyan S.
Willis, Konseling Individual Teori dan Praktek. ( Bandung: Alfabeta,
2014) hal. 184-187.
[4]Kathryn Geldard
dan David Geldard, Keterampilan Praktik Koseling Pendekatan Integratif.(Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2011), hal. 70.
[5]Sofyan S.
Willis, Konseling Individual Teori dan Praktek. ( Bandung: Alfabeta,
2014) hal. 187-189.
[6] A.
Supraktiknya, Tinjauan Psikologis Komunikasi Antarpribadi. (Yogyakarta:
PT Kanisius, 1995) hal. 73.
[7]Sofyan
S. Willis, Konseling Individual Teori dan Praktek. (Bandung: Alfabeta,
2014) hal. 190-196.

0 komentar:
Posting Komentar