INAYAH Blogger templates

Tempat Berbagi Kebahagiaan

Jumat, 17 Februari 2017


LAPORAN OBSERVASI
RESTORAN BU TJITRO 1925


Disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Enterpreneurship BKI


Disusun oleh :
1.      Nur Inayah                      (15220033)
2.      Amellia Julitasari            (15220044)

Dosen Pengampu :
Muhsin Khalida, MA
(19700403 200312 1 001)


BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2016
KATA PENGANTAR
     

Puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan laporan observasi ini. Laporan ini kami susun untuk menyelesaikan tugas dari mata kuliah Enterpreneurship BKI. Untuk itu laporan ini diharapkan dapat menjadi pembantu dalam proses pemahaman ketika pembelajaran berlangsung. Terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Muhsin Khalida, MA selaku Dosen mata kuliah Enterpreneurship BKI atas tugas yang Beliau berikan.
Kami selaku penyusun makalah ini, mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan dalam penulisan dan penyusunan laporan ini. Kekurangan hanya milik kami dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan untuk perbaikan di masa mendatang.



Yogyakarta, 30 November 2016


Penyusun



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................      2           
DAFTAR ISI...............................................................................................      3
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................      4           
A.    Gambaran Umum Sosial Ekonomi Masyarakat Sekitar..........................      4
B.     Keunikan.................................................................................................      5
BAB II GAMBARAN UMUM RESTORAN BU TJITRO 1925..........      6
A.    Sejarah Restoran Bu Tjitro 1925.............................................................      6
B.     Perenanaan Usaha...................................................................................      8
C.     Model Marketing....................................................................................      9
D.    Tenaga Kerja...........................................................................................    11

BAB III BIOGRAFI OWNER........................................................................    12
A.    Data Pribadi Owner................................................................................    12
B.     Motivasi Usaha.......................................................................................    12
C.     Prestasi Restoran Bu Tjitro 1925............................................................    13
D.    Menyikapi Keberhasilan Usaha...............................................................    18
E.     Menyikapi Kegagalan Usaha..................................................................    19

BAB IV  PENUTUP.........................................................................................    21
A.    Kesimpulan.............................................................................................    21
B.     Motivasi Diri...........................................................................................    22
LAMPIRAN......................................................................................................    23





BAB I
PENDAHULUAN

A.    GAMBARAN UMUM SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT SEKITAR
Seperti yang kita ketahui, gudeg adalah warisan nusantara dengan cita rasa yang tak perlu diragukan lagi. Tentunya orang-orang Jogja yang identik dengan makanan tersebut mampu untuk membuatnya sendiri. Namun berdasarkan obervasi yang kami lakukan, masyarakat di sekitar Restoran Bu Tjitro 1925 cenderung lebih memilih untuk membeli gudeg daripada membuat sendiri. Hal tersebut yang mendasari Restoran Bu Tjitro 1925 berdiri di lokasi Jalan Janti nomor 330 (depan JEC).
Selain lokasinya yang strategis, juga tak banyak usaha kuliner yang berdampingan dengan Restoran Bu Tjitro 1925. Hal ini tentu menambah keuntungan bagi Restoran Bu Tjitro dalam segi pemasarannya.
Berdasarkan data yang kami peroleh dari Bapak Jumirin selaku juru bicara, ada beberapa kalangan konsumen yang menjadi prioritas bagi  Restoran Bu Tjitro 1925. Pertama adalah wisatawan, mengingat Jogja sebagai kota pariwisata maka oleh-oleh tak luput menjadi  perhatian bagi mereka. Tentu hal ini disiasati secara tepat oleh Restoran Bu Tjitro 1925 dengan mengeluarkan produk gudeg yang tahan lama yaitu dalam kemasan kaleng yang praktis. Yang kedua adalah mahasiswa, restoran ini cukup mudah dijangkau bagi mahasiswa BSI dan UIN Sunan Kalijaga. Mahasiswa yang mengekost cenderung akan malas memasak sendiri dan lebih memilih untuk membeli makanan yang siap saji. Harga produk Bu Tjitro ini cukup terjangkau sehingga sesuai untuk dikonsumsi sewaktu-waktu. Konsumen yang ketiga adalah warga sekitar. Bagi mereka yang penasaran akan aneka rasa Gudeg Bu Tjitro bisa langsung datang tanpa harus mengeluarkan kantong lebih.
Mengenai masalah pekerja, tentunya Restoran Bu Tjitro 1925 mengusahakan agar memberdayakan Sumber Daya Manusia di sekitar restoran. Namun untuk kreteria pekerjanya tetap mengutamakan pendidikan serta profesionalitas. Pertimbangan dalam segi pendidikan ini ditujukan agar para pekerja bisa menempatkan diri sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Seperti halnya tugas dalam mengolah gudeg, maka yang lebih diutamakan adalah mereka yang lulusan tata boga.
B.     KEUNIKAN
Gudeg adalah salah satu makanan khas Yogyakarta yang terbuat dari bahan dasar nangka. Penyajian gudeg biasanya dilengkapi dengan ayam kampung, tempe atau tahu bacem dan sambel krecek. Cita rasanya yang nikmat dan manis menjadikan gudeg tak hanya digemari oleh masyarakat setempat melainkan juga wisatawan. Namun yang sangat disayangkan adalah gudeg hanya bisa bertahan hingga dua hari.
Pada umumnya, konsumen dapat menikmati gudeg secara langsung di tempat mereka beli. Namun jika mereka ingin membawa pulang gudeg maka gudeg dapat dikemas dengan menggunakan besek (kardus dari anyaman bambu) dan kendil (wadah dari tanah liat) yang dirasa kurang efisien.
Hal ini berbeda dengan gudeg yang disajikan oleh Restoran Bu Tjitro 1925. Dalam restoran tersebut, gudeg dikemas dengan menggunakan kaleng supaya lebih praktis dan dapat bertahan lama hingga satu tahun tanpa bahan pengawet. Gudeg Bu Tjitro ini juga ditujukan agar para wisatawan dapat membawa gudeg sebagai oleh-oleh. Berdasarkan iklan yang kami lihat disalah satu chanel televisi, Restoran Bu Tjitro ini tetap menjaga cita rasa yang ada pada gudeg meskipun dikemas dalam kaleng sehingga tidak akan membuat para konsumen kehilangan kenikmatan dari gudeg itu sendiri.
Kebanyakan orang menyangkal akan gudeg kaleng yang diproduksi oleh Restoran Bu Tjitro. Banyak tanda tanya yang mencuat mengenai daya tahan gudeg yang tanpa bahan pengawet ini. Tentu hal tersebut menarik bagi kami untuk dijadikan objek observasi. Sebab menurut kami, gudeg Bu Tjitro ini berbeda dari gudeg pada umumnya.
BAB II
GAMBARAN UMUM
RESTORAN BU TJITRO 1925

A.    SEJARAH RESTORAN BU TJITRO 1925
Sama seperti bisnis pada umumnya, dimana kesuksesan dalam suatu bisnis tidak ada yang didapat secara instan. Semuanya memiliki sejarah yang panjang sampai akhirnya mencapai kesuksesan. Begitu pula pada bisnis gudeg Bu Tjitro.
Bu Tjitro Sastrodiprojo selaku founder, mulai merintis usahanya pada tahun 1925. Setiap pagi Bu Tjitro berjualan gudeg di depan halaman rumahnya (Jalan Rotowidjayan, Kraton, Yogyakarta) dan siang harinya di Pasar Ngasem dengan konsep tradisional warung sederhana. Kemudian pada tahun 1967 dikembangkan oleh kedua putranya yang merupakan generasi kedua dengan membuka Rumah Makan Gudeg Bu Tjitro di Jakarta. Mereka adalah Bapak Soemadi di daerah Senen, Jakarta Pusat dan Bapak Soeharto di Cikajang, Kebayoran Lama.
Pada tahun 1990, Ibu Retno Widiastuti yang merupakan generasi ketiga ikut mengembangkan usaha rumah ini dengan membuka cabang Rumah Makan Aneka Bujana Bu Tjitro yang berlokasi didepan Ambarukmo Palace Hotel Jalan Solo Yogyakarta. Namun pada tahun 2000 pindah di Jalan Janti No 330 Yogyakarta (depan JEC). Kemudian pada tahun 2005 Rumah Makan Aneka Bujana Bu Tjitro berganti nama menjadi Bu Tjitro 1925 Restaurant.
Restoran Bu Tjitro 1925 mengalami pergantian owner pada tahun 2008. Beliau adalah Bu Jatu Dwi Kumalasari yang merupakan anak dari Bu Retno Widiastuti sekaligus menjadi generasi keempat. Hal ini juga disertai dengan adanya perubahan sistem manajemen, dari yang awalnya manajemen keluarga kemudian diberlakukan sistem manajemen modern. Sistem manajemen modern ini tentunya mempunyai struktur organisasi berupa visi, misi, dan tujuan.
Visi Bu Tjitro adalah menjadi restroran terbesar pemenang pesaing global, padahal disisi lain brand bu tjitro ini adalah masakan tradisional yang bahan bakunya terbuat dari nangka sehingga tidak mempunyai daya simpan yang lama. Ini merupakan tugas besar bagi Bu Jatu agar usaha warisan turun-temurun dari eyangnya tidak gulung tikar. Kemudian munculah sebuah terobosan baru untuk menambah nilai guna pada gudeg dengan cara pengalangen. LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) membaca peluang tersebut dengan melakukan tes teknologi untuk pengelolaan gudeg dalam kaleng yang bisa tahan lama. Restoran Bu Tjitro 1925 melakukan kerjasama dengan LIPI pada tahun 2009, namun membutuhkan waktu dua tahun untuk menguji coba gudeg kaleng agar sesuai seperti yang diinginkan Bu Jatu.
Berkaitan dengan kaleng, gudeg bu Tjitro ini jelas nantinya akan bertahan lama hingga 1 tahun bahkan 2 tahun. Hal ini bukan dikarenakan adanya bahan pengawet dalam makanan melainkan dari proses pengalengan itu sendiri. Dalam proses pengalengan ini diadakan sebuah pengawasan mulai dari bahan baku hingga kegiatan distibusi. Proses ini dimulai dengan memasak bahan gudeg, namun yang harus dihindari adalah hasil masakan yang terlalu matang (overcooking). Kemudian satu persatu bahan dari gudeg tersebut dimasukkan ke dalam kaleng yang telah steril. Pada tahap  kedua dilakukan proses penghampaan dengan mengkukus gudeg dalam suhu 95o C selama kurang lebih 20 menit. Setelah itu baru kaleng-kaleng tersebut ditutup. Tahap ketiga adalah proses sterilisasi yang dilakukan selama 20 menit pada suhu 121o C dengan tekanan sebesar 1,2 atm. Proses ini untuk mematikan para mikroba di dalam kaleng sehingga makanan nantinya memiliki daya simpan yang panjang. Kemudian pada tahap keempat dilakukan proses pendinginan yaitu dengan memasukkan kaleng-kaleng tersebut ke dalam air dingin guna memastikan apakah masih ada mikroba yang masih hidup atau tidak, baru setelah itu kaleng-kaleng tersebut dikeringkan. Pada tahap terakhir adalah proses karantina. Proses ini berlangsung selama 14-15 hari untuk mengamati apakah terjadi perubahan atau tidak pada kaleng-kaleng tersebut. Jika kaleng menggembung maka gudeg mengalami proses fermentasi dan menandakan pengalengan gudeg tersebut gagal. Namun, jika selama 15 hari kaleng tetap normal maka gudeg tersebut layak dikonsumsi.
Selepas dari proses pengalengan, tujuan Bu Tjitro selaku founder adalah ingin melipat gandakan kekayaan finansial maupun non finansial. Tahun 2010 berdirilah CV Buana Sejahtera sebagai badan usaha resmi dari Restoran Bu Tjitro 1925 yang memproduksi Gudeg Kaleng Bu Tjitro. Mulai tahun 2011 restoran tersebut melakukan produksi gudeg kaleng secara massal. Produksi ini mencapaai 85% dari total paket yang dikerjakan.
B.     PERENCANAAN USAHA
Jika berbicara mengenai bisnis tentunya tidak bisa terlepas dari yang namanya perencanaan usaha. Sebuah usaha tidak akan berjalan lancar jika sebelumnya tidak memiliki planning yang dibuat secara matang. Perencanaan usaha ini bisa berupa permodalan, target penjualan, dan sebagainya.
Modal awal usaha Bu Tjitro ini bersifat mandiri. Maksudnya dana ini bermula dari simpanan yang sudah ditabung keluarga kecil Bu Tjitro. Seiring berjalannya waktu, usaha gudeg Bu Tjitro ini mengalami kemajuan hingga mencapai keuntungan yang lumayan besar untuk membangun sebuah restoran. Setelah berhasil ditekuni oleh para generasinya, akhirnya bisnis Bu Tjitro ini mempercayakan modalnya pada CV Citra Buana Sejahtera. Kemudian pada tahun 2015, berhubung cucu-cucu dari Bu Tjitro ingin bergabung maka membukalah suatu saham yang namanya bukan lagi milik CV Citra Buana Sejahtera melainkan CV Citra Buana Sentosa.
Perencanaan usaha dalam bisnis Bu Tjitro ini harus terarah serta harus ada efisiensi atau tolak ukur keberhasilan. Hal ini mengacu pada ilmu manajemen pengelolaan bisnis. Pada dasarnya, ilmu manajemen pengelolaan bisnis mempunyai empat perspektif yang nantinya harus dituju oleh restoran Bu Tjitro. Pertama dalam segi  keuangan, baik dalam hal permodalan, pendapatan, dsb. Kedua dalam segi konsumen, yang harus diarahkan secara tepat sasaran konsumennya. Ketiga dalam segi proses bisnisnya, berjalan sesuai planning atau tidak. Keempat dalam segi sumber daya manusianya.
Mengingat Jogja sangat identik dan terkenal dalam hal pariwisata dan pendidikannya, maka restoran Bu Tjitro ini mengambil peluang dalam segi pariwisata. Kemudian untuk segment customernya akan dikelola dari travel agent. Sebab travel agent ini menduduki posisi 50% daripada pengunjung dadakan yang hanya 36,9% dan 15,6% dengan menjual oleh-oleh. Gambarannya semisal dalam sebulan restoran Bu Tjitro menargetkan 250 juta, maka 50% sendiri ditopang dari travel agent. Mengelola travel agent ini dilakukan dengan cara pendekatan ataupun marketing secara online dan juga offline.
C.    MODEL MARKETING
Marketing atau pemasaran adalah aktivitas serangkaian institusi, dan proses menciptakan, mengkomunikasikan, menyampaikan dan mempertukarkan tawaran yang bernilai bagi pelanggan, klien, mitra dan masyarakat umum. Oleh sebab itu pemasaran bisa dikatakan sebagai nyawa dari sebuah bisnis. Tanpa adanya pemasaran produk yang telah kita rancang tidak akan diketahui dan diterima oleh masyarakat luas.
Bisnis gudeg kaleng Bu Tjitro tentunya juga memiliki model pemasaran sendiri. Sebelum menjadi restoran besar, cara atau model pemasaran yang dilakukan adalah dengan Direct Selling (penjualan langsung) yaitu penggunaan saluran-saluran langsung ke konsumen untuk menjangkau dan menyerahkan barang dan jasa kepada pelanggan tanpa perantara pemasaran. Jadi Bu Tjitro menjual gudeg di depan rumahnya secara langsung kepada para konsumen yang datang ke warungnya. Saat itu konsumennya pun masih sekedar para tetangga dan orang-orang yang lewat di depan rumah beliau. Namun karena rasa yang khas dan pelayanan yang baik membuat konsumen gudeg Bu Tjitro makin banyak, keuntungan yang diperolehpun berlipat ganda. Dari keuntungan tersebut gudeg Bu Tjitro bisa sampai membuat sebuah restoran dan hal itu terealisasi saat dikembangkan oleh anaknya sebagai penerus ke-2 pada tahun 1967. Kemudian pada tahun 1990 cucu Bu Tjitro sebagai penerus ke-3 mengembangkan restoran besar yang berada di depan Ambarukmo. Karena melihat lokasi yang masih kurang strategis pada saat itu akhirnya restoran tersebut dipindahkan ke Jalan Janti No. 330 (Depan JEC) sampai sekarang.
Setelah mendirikan restoran para penerus bisnis gudeg Bu Tjitro merasa bahwa model direct selling ini tentunya butuh pengembangan. Apalagi melihat dari para konsumennya yang tidak hanya dari orang-orang disekitar restoran namun juga banyak yang dari wilayah lain, bahkan dari luar Pulau Jawa. Hal itu membuat para penerus gudeg Bu Tjitro akhirnya   memilih untuk menjual secara online dan offline.
Dalam model marketing online Bu Tjitro memilih beberapa sosial media yang dirasa dapat mengembangkan bisnisnya sampai ke tingkat global. Misalnya seperti facebook dengan nama akun “Gudeg Kaleng Bu Tjitro”, website dengan alamat http://www.pusatgudegkaleng.info. Di dalam website tersebut juga tertera berbagai contack person yang dapat dihubungi untuk pemesanan gudeg. Kemudian pesanan gudeg akan dikirimkan melalui agen-agen yang telah bekerjasama dengan gudeg Bu Tjitro seperti JNE, TiKi, Pos Indonesia, dan GOJEK. Hal ini tentu mempermudah para konsumen untuk tetap mendapatkan pelayanan tanpa harus repot datang ke restoran.
Selain online Bu Tjitro juga menggunakan model pemasaran offline yaitu pertama saat para konsumen datang langsung ke restoran. Para konsumen akan disuguhkan dengan berbagai aneka macam gudeg yang dijual, bagi konsumen yang penasaran dengan proses pembuatan gudeg maupun proses pengalengannya, dari pihak Bu Tjitro akan dengan senang hati menjelaskan dan mempromosikan gudeg tersebut. Kedua selain di restoran Bu Tjitro juga memasarkan produknya diberbagai supermarket di wilayah Jogja dan sekitarnya sebagai oleh-oleh khas Jogja.
D.    TENAGA KERJA
Sebuah perusahaan supaya operasionalnya bisa berjalan dengan lancar sebaiknya membuat struktur organisasi, supaya para pegawai atau tenaga kerjanya memiliki bagian tugasnya masing-masing dan dapat bekerja secara maksimal. Gudeg Bu Tjitro sendiri yang berada dibawah naungan CV. Citra Buana Sejahtera memiliki struktur organisasi yang terdiri dari owner atau pemilik sebagai pemilik kedudukan tertinggi kemudian dibawahnya adalah direktur dan direktur ini membawahi manager operasional. Manager operasional sendiri membawahi beberapa pegawai seperti driver, manager pemasaran, manager administrasi keuangan, manager produksi, dan quality controller. Manager produksi juga membawahi beberapa pegawai juga seperti cook dan cook helper. Dengan struktur organisasi yang demikian dapat dilihat bahwa posisi staf adalah sebagai intrapeneur. Intrapreneur ini sendiri adalah karyawan, bekerja pada orang lain, memiliki atasan, namun yg di cari adalah kemerdekaan dan akses terhadap resources, dan orang tersebut memiliki jiwa kewirausahaan.

Owner/pemilik
Bagan pembagian wilayah  kerja CV. Citra Buana Sejahtera adalah sebagi berikut :

Cook Helper

Direktur

Driver

Manajer Operasional

Manajer Pemasaran

Manajer
Administrasi
Keuangan

Manajer Produksi

Cook

Quality
Controller

Cook Helper

 


BAB III
BIOGRAFI OWNER

A.    DATA PRIBADI OWNER
Sragen mungkin bukan kota yang identik dengan gudeg, tapi bukan berarti ibu Jatu Dwi Kumalasari yang lahir di Sragen 7 Januari 1980 ini  tidak memiliki kesempatan untuk menjadi penngusaha gudeg. Ibu Jatu mengawali karirnya dengan berbekal Imu Manajemen yang didapatkan saat beliau menempuh pendidikan di STIE YKPN.
Awalnya sebelum memilih untuk kuliah jurusan Manajemen, beliau hanya diberi dua pilihan oleh kedua orangtuanya yaitu untuk mengambil jurasan kedokteran atau ekonomi saja. Karena pekerjaan ayahnya terdahulu adalah seorang doter sedangkan ibunya sebagai pengusaha. Kedua orangtuanya berharap agar Bu Jatu dapat meneruskan salah satu pekerjaan orangtuanya. Akhirnya Bu Jatu memilih meneruskan bisnis ibunya yaitu gudeg Bu Tjitro.
Kesuksesan Bu Jatu tidak semata-mata karena usahanya sendiri, namun juga berkat dukungan suami dan anak-anaknya. Pernikahan yang dilakukan pada tanggal 13 Agustus 2005 dengan Ikhwan Sholihan dikaruniai tiga orang anak yaitu Farel, Fakhrizal, dan Fadel..
B.     MOTIVASI USAHA
Banyak orang beranggapan kesuksesan itu berawal dari sebuah hobi yang ditekuni. Hal ini memang nyata dialami oleh Bu Tjitro. Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari Pak Jumirin (juru bicara), Bu Tjitro merintis usaha gudegnya berawal dari hobi memasak. Kelihaiannya dalam memasak telah menghasilkan beberapa menu makanan. Namun yang lebih ditekankan oleh beliau adalah makanan tradisional.
Mengingat keterbatasan modal dan juga peralatan, beliau akhirnya memutuskan untuk berjualan gudeg. Gudeg adalah salah satu kuliner tradisional yang tak hanya digemari oleh masyarakat Jogja melainkan juga para wisatawan. Disamping itu, Bu Tjitro juga ingin mengembalikan citra rasa nusantara yang mulai pudar seiring berjalannya waktu. Motivasi tersebut sesuai sekali dengan motto beliau “unggul dalam menu gudeg dan istimewa dalam menu nusantara”.
Ketika memulai suatu usaha, tentunya tidak terlepas dari adanya rasa takut akan kegagalan. Hal ini awalnya menjadi momok bagi Bu Tjitro, beliau takut jika nantinya tidak bisa balik modal ataupun kalah saing dengan usaha kuliner modern sehingga kebutuhan ekonomi keluarganya semakin mencuat. Namun ketekadan yang ada dalam diri Bu Tjitro berhasil menghempaskan rasa takut tersebut.
Keahlian tangan Bu Tjitro dalam meracik bumbu gudeg tak bisa dipungkiri lagi. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin banyaknya pelanggan yang mengonsumsi gudeg Bu Tjitro yang dijual didepan halaman rumah dan juga pasar ngasem. Berkat hal itu pula semangat beliau kian bertambah untuk memajukan usahanya.
Kenyataan tersebut membuat Bu Jatu Dwi Kumalasari yang merupakan generasi keempat merasa termotivasi dan tertantang untuk terus mengembangkan Restoran Bu Tjitro 1925. Dengan adanya inovasi gudeg kaleng, Bu Jatu ingin menjadikan usaha warisan turun-temurun Gudeg Bu Tjitro tidak gulung tikar.
C.    PRESTASI RESTORAN BU TJITRO 1925
1.      UPT BPPTK LIPI
Ini merupakan apresiasi dari LIPI atas kerjasamanya dengan Restoran Bu Tjitro 1925. Bu Jatu Dwi Kumalasari memulai kerjasama dengan Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (UPT BPPTK LIPI) Yogyakarta pada tahun 2009. Beliau melakukan uji coba agar gudeg kaleng bisa sesuai seperti apa yang diinginkannya baik dalam hal rasa dan juga bebas dari bahan pengawet. Uji coba ini memakan waktu hingga dua tahun. Pada tahun 2011 gudeg kaleng ini sudah bisa diproduksi secara massal.

2.      Kartini Awards 2012
Dalam ajang Kartini Awards ini, Bu Jatu Dwi Kumalasai mendapat penghargaan dalam kategori perempuan Indonesia terinspiratif dalam bidang bisnis usaha. Disaat dunia bisnisnya berada dalam keadaan yang kurang baik, Bu Jatu berani mengeluarkan terobosan baru yang bagi kebanyakan orang sebagai sesuatu yang mustahil. “Gudeg kaleng” tak sedikit orang yang menertawakan ide tersebut. Mana mungkin makanan yang tidak mempunyai daya simpan lama bisa bertahan selama satu tahun bahkan dua tahun kecuali jika menggunakan bahan pengawet.
Cercaan tersebut tidak membuat semangat beliau pudar justru membuat Bu Jatu bertekad membuktikannya. Beliau tidak ingin usaha yang susah payah didirikan oleh eyangnya itu mengalami gulung tikar. Akhirnya berkat tekad dan kerja keras, beliau mampu memproduksi gudeg kaleng secara massal dengan uji coba yang telah dilakukannya bersama LIPI. Produksi kaleng ini tak hanya dalam lingkup nasional tetapi juga mancanegara. Hal ini tentu menjadi inspirasi dan patut mendapat apresiasi dari Kartini Awards tahun 2012 lalu.

3.      IDEALIFE  (Home Innovation Japan)
Restoran Bu Tjitro 1925 mendapat penghargaan dari Idealife sebagai Juara Kuliner Indonesia. Penghargaan ini tak hanya ditujukan pada menu tradsionalnya saja, melainkan juga keunikan yang dimiliki oleh Restoran yang sudah berdiri selama kurang lebih 91 tahun ini.
Restoran Bu Tjitro 1925 berkomitmen untuk menggarap makanan sebaik mungkin dengan bahan-bahan yang terbilang premium namun mampu menciptakan cita rasa yang berkelas.  Apalagi dengan adanya bentuk penghargaan ini, maka Restoran Bu Tjitro bersaing dengan restoran lain dengan menekankan pada keunikan kaleng yang bisa membuat gudeg tahan lama dan dinikmati oleh para wisatawan sebagai oleh-oleh.





4.      Koki Cilik Trans 7
Acara Koki Cilik Trans 7 adalah salah satu media massa yang digunakan oleh Restoran Bu Tjitro 1925 sebagai ajang promosi. Acara tersebut mengulas tentang produk gudeg kaleng, seperti komposisi gudeg kaleng, alasan dapat tahan lama hingga satu tahun tanpa bahan pengawet, dengan siapa gudeg Bu Tjitro melakukan kerjasama pengalengan, berapa banyak produksi yang dibuat, serta mengulas tentang inovator gudeg kaleng yaitu Jatu Dwi Kumalasari.
Disamping sebagai ajang promosi, Restoran Bu Tjitro 1925 juga mendapat apresiasi dari acara Koki Cilik Trans 7 berkat keunikan produk serta usia Restoran yang sudah terbilang lama namun masih berkelas.









Selain prestasi-prestasi diatas, Restoran Bu Tjitro 1925 juga memiliki beberapa kenang-kenangan sebagai bukti kunjungan dari berbagai lembaga formal. Berikut ini adalah kenang-kenangan yang berhasil kami dokumentasikan :

D.    MENYIKAPI KEBERHASILAN USAHA
Usaha gudeg kaleng Bu Tjitro ini memang bisa dibilang sudah sangat sukses. Dengan pendapatan 250 juta setiap bulanya tentunya sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan owner dan para pegawainya. Namun bukan berarti kesuksesan ini membuat owner merasa sombong dan lupa bahwa dibalik kesuksesan usaha gudeg kaleng Bu Tjitro  ini tentu berkat dan rahmat Allah SWT. Kata owner sesuai dengan firman Allah yang terdapat di dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7 sebagai berikut :
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya : Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

“Dari ayat tersebut sudah sangat jelas bahwa kita sebagai umat Islam harus selalu bersyukur dengan apa yang kita dapatkan, apalagi dalam hal ini sebuah kesuksesan yang sangat besar, tentu kita harus selalu bersyukur.” Jelas Pak Jumirin selaku juru bicara.  
Oleh sebab itu cara owner untuk memperlihatkan rasa syukurnya salah satunya adalah dengan rutin mengeluarkan zakat baik zakat fitrah maupun zakat mal serta tidak lupa memberikan sadaqah kepada orang-orang yang membutuhkan.
Kesuksesan yang didapat tidak lantas membuat owner merasa cukup sampai disitu dan tidak ingin berkembang lagi. Namun beliau berusaha mencari inovasi-inovasi baru lagi untuk memperbanyak usahanya agar bisa menjadi makin luas.
E.     MENYIKAPI KEGAGALAN USAHA
Dalam setiap usaha tentunya terdapat pasang surut, begitu juga dengan usaha gudeg kaleng Bu Tjitro. Kegagalan tentunya pernah dialami owner meskipun jika dilihat sekarang kesuksesannya tentu sudah membuat semua orang lupa akan masa-masa kegagalan. Sebagai contoh, dahulu saat gudegnya sempat kurang dapat perhatian dari konsumen, owner merasa bingung harus mencari inovasi seperti apa untuk mengembangkan kembali gudeg Bu Tjitro ini. Kemudian owner berusaha mencari informasi-informasi baru diinternet kemudian menemukan informasi bahwa LIPI sedang melakukan penelitian untuk membuat makanan dalam kaleng, disitulah akhirnya muncul inovasi baru dan membuat gudeg kaleng Bu Tjitro menjadi idola lagi di hati konsumennya.
Dilihat dari contoh diatas dapat mengambil kesimpulan bahwa owner dalam menyikapi kegagalan dalam usahanya adalah dengan berusaha mencari tahu terlebih dahulu apa sebenarnya kendala-kendala yang membuatnya gagal. Kemudian berusaha untuk mencari solusi dalam menyelesaikan kendala-kendala yang ada.
Oleh sebab itu, menurut owner kendala di dalam perushaannya dapat dikelompokan menjadi tiga hal yaitu, kendala pasar; modal; dan SDM (Sumber Daya Manusia). Kendala pasar yang dimaksud adalah para konsumen dan pemasaran, dan cara menyikapinya dengan memperbaiki model marketing yaitu yang dulu dengan direct selling sekarang dengan model online dan offline. Kemudian kendala modal. Modal itu tentunya adalah hal yang sangat diperlukan dalam sebuah usaha, jika tidak ada modal sebuah usaha tidak akan mampu memproduksi apa yang akan diusahakannya. Oleh sebab itu owner mencoba mengatasinya dengan bergabung dengan CV. Citra Buana Sejahtera sebagai mitra usaha khususnya dalam hal permodalan. Selanjutnya kendala SDM dimana tidak semua SDM bisa mengerjakan hal yang berhubungan dengan bisnis, oleh sebab itu pengelolaan SDM juga menjadi salah satu yang mendapat pengawasan dan penyeleksian yang ketat. Apalagi yang berhubungan dengan pengolahan gudeg sendiri ataupun pengalengan, orang-orang yang bekerja disana harus memiliki pengetahuan tentang pangan itu sendiri.




BAB IV
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
1.      Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang kami lakukan mengenai usaha gudeg kaleng Bu Tjitro, dapat ditarik kesimpulan bahwa usaha tersebut termasuk jenis usaha kuliner nusantara yang menjadi salah satu pilihan masyarakat Indonesia khususnya wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Alasan pemilihan menu gudeg sendiri memang diambil oleh Bu Tjitro karena beliau memiliki hobi untuk memasak gudeg, sehingga menu gudeg itulah yang dipilih sebagai usahanya.
Pasang surut dalam bisnis juga dirasakan oleh owner, namun karena kegigihannya dan sikap pantang menyerahnya segala kesulitan yang dihadai selama merintis usaha gudeg ini dapat diselesaikan. Contohnya adalah saat omset gudeg mengalami kemerosotan dikarenakan berkurangnya minat konsumen, membuat owner harus mencari solusi dan ide lain agar gudegnya dapat menjadi idola masyarakat lagi. Kemudian munculah ide yaitu bekerja sama dengan LIPI untuk membuat gudeg dalam kemasan kaleng. Setelah berhasil melakukan percobaan untuk pembuatan gudeg kemasan kaleng, omset yang didapatkan sangat besar. Karena dalam sekali produksi mampu membuat sampai 500 kaleng setiap harinya.
Model pemasaran atau marketing yang digunakan juga disesuaikan dengan kebutuhan, yaitu dari yang dulunya hanya direct selling atau penjualan langsung dari produsen ke konsumen tanpa melalui perantara, kini diganti dengan model online dan offline sesuai kebutuhan masyarakat yang tidak banyak memiliki waktu untuk datang langsung ke Restoran maupun otlet gudeg Bu Tjitro.
2.      Jika dilihat dari profil owner, Ibu Jatu Dwi Kumalasari sendiri awalnya tidak memiliki gambaran akan meneruskan bisnis eyangnya. Namun karena amanat dari orang tuanya, owner akhirnya bersedia untuk meneruskan. Dengan ilmu yang didapatkan selama menempuh pendidikan manajemen di YKPN membuat owner merasa mampu untuk mengembangkan kembali binis keluarganya ini. Selain itu semangat sang eyang saat dahulu masih mampu berjualan gudeglah yang membuat owner merasa perlu untuk menirunya.
B.     MOTIVASI DIRI
Setelah melakukan observasi dan wawancara dengan pengusaha gudeg kaleng Bu Tjitro membuat kami menyadari bahwa ada begitu banyak hal yang memotivasi kami untuk menjadi seorang enterpreneur yang sukses. Hal-hal tersebut antara lain :
1.      Pemilihan usaha harus disesuaikan dengan hobi agar selama menjalankan usaha tersebut selalu dengan senang hati.
2.      Jangan pernah bosan untuk selalu mencoba dan mencoba lagi, jika dengan cara ini gagal dicoba untuk mencari cara lain.
3.      Harus selalu sabar dan bekerja keras karena disetiap usaha pasti akan ada kendala, namun jangan jadikan itu sebagai penghalang justru jadikan kendala tersebut sebagai alasan kita untuk maju.
4.      Senantiasa mencari inovasi-inovasi baru yang berbeda agar usaha kita memiliki keunikan tersendiri dan berbeda dengan yang lainnya. Karena dengan keunikan tersebut nantinya kita akan memiliki kesan dihati konsumen.
5.      Senantiasa mencari informasi bisnis yang mungkin berhubungan dengan usaha kita.
6.      Jika sudah sukses jangan pernah lupa untuk bersyukur karena bagaimanapun juga kesuksesan kita adalah berkat rahmat dari Allah SWT.
Posted by nur isnaeni on 21.52 in    No comments »

0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter

Search