LAPORAN OBSERVASI
Disusun
untuk Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah Enterpreneurship BKI
Disusun
oleh :
1.
Nur Inayah (15220033)
2.
Amellia Julitasari (15220044)
Dosen
Pengampu :
Muhsin
Khalida, MA
(19700403
200312 1 001)
BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
limpahan Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan laporan
observasi ini. Laporan ini kami susun untuk menyelesaikan tugas dari mata
kuliah Enterpreneurship BKI. Untuk itu laporan ini diharapkan dapat menjadi
pembantu dalam proses pemahaman ketika pembelajaran berlangsung. Terimakasih
kami ucapkan kepada Bapak Muhsin Khalida, MA selaku Dosen mata kuliah
Enterpreneurship BKI atas tugas yang Beliau berikan.
Kami selaku penyusun makalah ini, mohon maaf yang
sebesar-besarnya atas segala kesalahan dalam penulisan dan penyusunan laporan
ini. Kekurangan hanya milik kami dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Oleh
karena itu, kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan untuk perbaikan
di masa mendatang.
Yogyakarta, 30 November 2016
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR............................................................................... 2
DAFTAR
ISI............................................................................................... 3
BAB
I PENDAHULUAN.......................................................................... 4
A. Gambaran Umum Sosial Ekonomi Masyarakat
Sekitar.......................... 4
B. Keunikan................................................................................................. 5
BAB
II GAMBARAN UMUM RESTORAN BU TJITRO 1925.......... 6
A. Sejarah Restoran Bu Tjitro 1925............................................................. 6
B. Perenanaan Usaha................................................................................... 8
C. Model Marketing.................................................................................... 9
D. Tenaga Kerja........................................................................................... 11
BAB
III BIOGRAFI OWNER........................................................................ 12
A. Data Pribadi Owner................................................................................ 12
B. Motivasi Usaha....................................................................................... 12
C. Prestasi Restoran Bu Tjitro 1925............................................................ 13
D. Menyikapi Keberhasilan Usaha............................................................... 18
E. Menyikapi Kegagalan Usaha.................................................................. 19
BAB
IV PENUTUP......................................................................................... 21
A. Kesimpulan............................................................................................. 21
B. Motivasi Diri........................................................................................... 22
LAMPIRAN...................................................................................................... 23
BAB I
PENDAHULUAN
A.
GAMBARAN UMUM SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT SEKITAR
Seperti yang kita ketahui, gudeg
adalah warisan nusantara dengan
cita rasa yang tak perlu diragukan lagi. Tentunya orang-orang Jogja yang
identik dengan makanan tersebut mampu untuk membuatnya sendiri. Namun
berdasarkan obervasi yang kami lakukan, masyarakat di sekitar Restoran Bu
Tjitro 1925 cenderung lebih memilih untuk membeli gudeg daripada membuat
sendiri. Hal tersebut yang mendasari Restoran Bu Tjitro 1925 berdiri di lokasi
Jalan Janti nomor 330 (depan JEC).
Selain lokasinya yang strategis, juga tak banyak usaha kuliner yang
berdampingan dengan Restoran Bu Tjitro 1925. Hal ini tentu menambah keuntungan
bagi Restoran Bu Tjitro dalam segi pemasarannya.
Berdasarkan data yang kami peroleh dari Bapak Jumirin selaku juru
bicara, ada beberapa kalangan konsumen yang menjadi
prioritas bagi Restoran Bu Tjitro 1925.
Pertama adalah wisatawan, mengingat Jogja sebagai kota pariwisata maka
oleh-oleh tak luput menjadi perhatian bagi mereka. Tentu hal ini disiasati
secara tepat oleh Restoran Bu Tjitro 1925 dengan mengeluarkan produk gudeg yang
tahan lama yaitu dalam
kemasan kaleng yang praktis.
Yang kedua adalah mahasiswa, restoran ini cukup mudah dijangkau bagi mahasiswa
BSI dan UIN Sunan Kalijaga. Mahasiswa yang mengekost cenderung akan malas
memasak sendiri dan lebih memilih untuk membeli makanan yang siap saji. Harga
produk Bu Tjitro ini cukup terjangkau sehingga sesuai untuk dikonsumsi
sewaktu-waktu. Konsumen yang ketiga adalah warga sekitar. Bagi mereka yang penasaran
akan aneka rasa Gudeg Bu Tjitro bisa langsung datang tanpa harus mengeluarkan
kantong lebih.
Mengenai masalah pekerja, tentunya Restoran Bu Tjitro 1925 mengusahakan
agar memberdayakan Sumber Daya Manusia di sekitar restoran. Namun untuk
kreteria pekerjanya tetap mengutamakan pendidikan serta profesionalitas.
Pertimbangan dalam segi pendidikan ini ditujukan agar para pekerja bisa
menempatkan diri sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Seperti halnya tugas
dalam mengolah gudeg, maka yang lebih diutamakan adalah mereka yang lulusan
tata boga.
B.
KEUNIKAN
Gudeg adalah salah satu makanan khas Yogyakarta yang terbuat dari
bahan dasar nangka. Penyajian gudeg biasanya dilengkapi dengan ayam kampung,
tempe atau tahu bacem dan sambel krecek. Cita rasanya yang nikmat
dan manis menjadikan gudeg tak hanya digemari oleh masyarakat setempat
melainkan juga wisatawan. Namun yang sangat disayangkan adalah gudeg hanya bisa
bertahan hingga dua hari.
Pada umumnya, konsumen dapat menikmati gudeg secara langsung di
tempat mereka beli. Namun jika mereka ingin membawa pulang gudeg maka gudeg
dapat dikemas dengan menggunakan besek (kardus dari anyaman bambu) dan kendil
(wadah dari tanah liat) yang dirasa kurang efisien.
Hal ini berbeda dengan gudeg yang disajikan oleh Restoran Bu Tjitro
1925. Dalam restoran tersebut, gudeg dikemas dengan menggunakan kaleng supaya lebih praktis dan dapat bertahan lama hingga satu tahun tanpa bahan pengawet. Gudeg
Bu Tjitro ini juga ditujukan agar para wisatawan dapat membawa gudeg sebagai
oleh-oleh. Berdasarkan iklan yang kami lihat disalah satu chanel televisi,
Restoran Bu Tjitro ini tetap menjaga cita rasa yang ada pada gudeg meskipun
dikemas dalam kaleng sehingga tidak akan membuat para konsumen kehilangan
kenikmatan dari gudeg itu sendiri.
Kebanyakan orang menyangkal akan gudeg kaleng yang diproduksi oleh
Restoran Bu Tjitro. Banyak tanda tanya yang mencuat mengenai daya tahan gudeg
yang tanpa bahan pengawet ini. Tentu hal tersebut menarik bagi kami untuk dijadikan
objek observasi. Sebab menurut
kami, gudeg Bu Tjitro ini berbeda dari gudeg pada umumnya.
BAB II
GAMBARAN UMUM
RESTORAN BU TJITRO 1925
A.
SEJARAH RESTORAN BU TJITRO 1925
Sama seperti bisnis pada umumnya, dimana kesuksesan dalam suatu bisnis
tidak ada yang didapat secara instan. Semuanya memiliki sejarah yang panjang
sampai akhirnya mencapai kesuksesan. Begitu pula pada bisnis gudeg Bu Tjitro.
Bu Tjitro Sastrodiprojo selaku
founder, mulai merintis usahanya pada tahun 1925. Setiap pagi Bu Tjitro
berjualan gudeg di depan halaman rumahnya (Jalan Rotowidjayan, Kraton,
Yogyakarta) dan siang harinya di Pasar Ngasem dengan konsep tradisional warung
sederhana. Kemudian pada
tahun 1967 dikembangkan oleh kedua putranya yang merupakan generasi kedua dengan
membuka Rumah Makan Gudeg Bu Tjitro di Jakarta. Mereka adalah Bapak Soemadi di
daerah Senen, Jakarta Pusat dan Bapak Soeharto di Cikajang, Kebayoran Lama.
Pada tahun 1990, Ibu Retno Widiastuti yang merupakan generasi
ketiga ikut mengembangkan usaha rumah ini dengan membuka cabang Rumah Makan
Aneka Bujana Bu Tjitro yang berlokasi didepan Ambarukmo Palace Hotel Jalan Solo
Yogyakarta. Namun pada tahun 2000 pindah di Jalan Janti No
330 Yogyakarta (depan JEC). Kemudian pada
tahun 2005 Rumah Makan Aneka Bujana Bu Tjitro berganti nama menjadi Bu Tjitro
1925 Restaurant.
Restoran Bu Tjitro 1925 mengalami pergantian owner pada tahun 2008.
Beliau adalah Bu Jatu Dwi Kumalasari yang merupakan anak dari Bu Retno
Widiastuti sekaligus menjadi generasi
keempat. Hal ini juga disertai dengan adanya perubahan sistem manajemen, dari yang
awalnya manajemen keluarga kemudian diberlakukan sistem manajemen modern. Sistem
manajemen modern ini tentunya mempunyai struktur organisasi berupa visi, misi,
dan tujuan.
Visi Bu Tjitro adalah menjadi restroran terbesar pemenang pesaing
global, padahal disisi lain brand bu tjitro ini adalah masakan tradisional yang
bahan bakunya terbuat dari nangka sehingga tidak mempunyai daya simpan yang
lama. Ini merupakan tugas besar bagi Bu Jatu agar usaha warisan turun-temurun
dari eyangnya tidak gulung tikar. Kemudian munculah sebuah terobosan baru untuk
menambah nilai guna pada gudeg dengan cara pengalangen. LIPI (Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia) membaca peluang tersebut dengan melakukan tes teknologi
untuk pengelolaan gudeg dalam kaleng yang bisa tahan lama. Restoran Bu Tjitro
1925 melakukan kerjasama dengan LIPI pada tahun 2009, namun membutuhkan waktu
dua tahun untuk menguji coba gudeg kaleng agar sesuai seperti yang diinginkan
Bu Jatu.
Berkaitan dengan kaleng, gudeg bu Tjitro ini jelas nantinya akan
bertahan lama hingga 1 tahun bahkan 2 tahun. Hal ini bukan dikarenakan adanya
bahan pengawet dalam makanan melainkan dari proses pengalengan itu sendiri.
Dalam proses pengalengan ini diadakan sebuah pengawasan mulai dari bahan baku
hingga kegiatan distibusi. Proses ini dimulai dengan memasak bahan
gudeg, namun yang harus dihindari adalah hasil masakan yang terlalu matang
(overcooking). Kemudian satu persatu bahan dari gudeg tersebut dimasukkan ke dalam
kaleng yang telah steril. Pada tahap kedua
dilakukan proses penghampaan dengan mengkukus gudeg dalam suhu 95o C
selama kurang lebih 20 menit. Setelah itu baru kaleng-kaleng tersebut ditutup.
Tahap ketiga adalah proses sterilisasi yang dilakukan selama 20 menit pada suhu
121o C dengan tekanan sebesar 1,2 atm. Proses ini untuk mematikan
para mikroba di dalam kaleng sehingga makanan nantinya memiliki daya simpan
yang panjang. Kemudian pada tahap keempat dilakukan proses pendinginan yaitu
dengan memasukkan kaleng-kaleng tersebut ke dalam air dingin guna memastikan apakah masih ada mikroba yang masih hidup atau tidak, baru
setelah itu kaleng-kaleng tersebut dikeringkan. Pada tahap
terakhir adalah proses karantina. Proses ini berlangsung selama 14-15 hari
untuk mengamati apakah terjadi perubahan atau tidak pada kaleng-kaleng
tersebut. Jika kaleng menggembung maka gudeg
mengalami proses fermentasi dan menandakan pengalengan gudeg tersebut gagal.
Namun, jika selama 15 hari kaleng tetap normal maka gudeg tersebut layak
dikonsumsi.
Selepas dari proses pengalengan, tujuan Bu Tjitro selaku founder
adalah ingin melipat gandakan kekayaan finansial maupun non finansial. Tahun
2010 berdirilah CV Buana Sejahtera sebagai badan usaha resmi dari Restoran Bu
Tjitro 1925 yang memproduksi Gudeg Kaleng Bu Tjitro. Mulai tahun 2011 restoran
tersebut melakukan produksi gudeg kaleng secara massal. Produksi ini mencapaai 85%
dari total paket yang dikerjakan.
B.
PERENCANAAN USAHA
Jika berbicara mengenai bisnis tentunya tidak bisa terlepas dari
yang namanya perencanaan usaha. Sebuah
usaha tidak akan berjalan lancar jika sebelumnya tidak memiliki planning
yang dibuat secara matang. Perencanaan usaha ini bisa berupa permodalan, target
penjualan, dan sebagainya.
Modal awal usaha Bu Tjitro ini bersifat mandiri. Maksudnya dana ini
bermula dari simpanan yang sudah ditabung keluarga kecil Bu Tjitro. Seiring
berjalannya waktu, usaha gudeg Bu Tjitro ini mengalami kemajuan hingga mencapai
keuntungan yang lumayan besar untuk membangun sebuah restoran. Setelah berhasil
ditekuni oleh para generasinya, akhirnya bisnis Bu Tjitro ini mempercayakan
modalnya pada CV Citra Buana
Sejahtera. Kemudian pada tahun 2015, berhubung cucu-cucu dari Bu Tjitro ingin bergabung
maka membukalah suatu saham yang namanya bukan lagi milik CV Citra Buana
Sejahtera melainkan CV Citra Buana Sentosa.
Perencanaan usaha dalam bisnis Bu Tjitro ini harus terarah serta
harus ada efisiensi atau tolak ukur keberhasilan. Hal ini mengacu pada ilmu manajemen
pengelolaan bisnis. Pada dasarnya, ilmu manajemen pengelolaan bisnis mempunyai
empat perspektif yang nantinya harus dituju oleh restoran Bu Tjitro. Pertama
dalam segi keuangan, baik dalam hal
permodalan, pendapatan, dsb. Kedua dalam segi konsumen, yang harus diarahkan
secara tepat sasaran konsumennya. Ketiga dalam segi proses bisnisnya, berjalan
sesuai planning atau tidak. Keempat dalam segi sumber daya manusianya.
Mengingat Jogja sangat identik dan terkenal dalam hal pariwisata
dan pendidikannya, maka restoran Bu Tjitro ini mengambil peluang dalam segi
pariwisata. Kemudian untuk segment customernya akan dikelola dari travel agent.
Sebab travel agent ini menduduki posisi 50% daripada pengunjung dadakan yang
hanya 36,9% dan 15,6% dengan menjual oleh-oleh. Gambarannya semisal dalam
sebulan restoran Bu Tjitro menargetkan 250 juta, maka 50% sendiri ditopang dari travel agent.
Mengelola travel agent ini dilakukan dengan cara pendekatan ataupun marketing
secara online dan juga offline.
C.
MODEL MARKETING
Marketing atau pemasaran adalah aktivitas serangkaian institusi,
dan proses menciptakan, mengkomunikasikan, menyampaikan dan mempertukarkan
tawaran yang bernilai bagi pelanggan, klien, mitra dan masyarakat umum. Oleh
sebab itu pemasaran bisa dikatakan sebagai nyawa dari sebuah bisnis. Tanpa
adanya pemasaran produk yang telah kita rancang tidak akan diketahui dan
diterima oleh masyarakat luas.
Bisnis gudeg
kaleng Bu Tjitro tentunya juga memiliki model pemasaran sendiri. Sebelum
menjadi restoran besar, cara atau model pemasaran yang dilakukan adalah dengan
Direct Selling (penjualan langsung) yaitu penggunaan saluran-saluran langsung
ke konsumen untuk menjangkau dan menyerahkan barang dan jasa kepada pelanggan
tanpa perantara pemasaran. Jadi Bu Tjitro menjual gudeg di depan rumahnya
secara langsung kepada para konsumen yang datang ke warungnya. Saat itu
konsumennya pun masih sekedar para tetangga dan orang-orang yang lewat di depan
rumah beliau. Namun karena rasa yang khas dan pelayanan yang baik membuat
konsumen gudeg Bu Tjitro makin banyak, keuntungan yang diperolehpun berlipat
ganda. Dari keuntungan tersebut gudeg Bu Tjitro bisa sampai membuat sebuah
restoran dan hal itu terealisasi saat dikembangkan oleh anaknya sebagai penerus
ke-2 pada tahun 1967. Kemudian pada tahun 1990 cucu Bu Tjitro sebagai penerus
ke-3 mengembangkan restoran besar yang berada di depan Ambarukmo. Karena melihat
lokasi yang masih kurang strategis pada saat itu akhirnya restoran tersebut
dipindahkan ke Jalan Janti No. 330 (Depan JEC) sampai sekarang.
Setelah
mendirikan restoran para penerus bisnis gudeg Bu Tjitro merasa bahwa model
direct selling ini tentunya butuh pengembangan. Apalagi melihat dari para
konsumennya yang tidak hanya dari orang-orang disekitar restoran namun juga
banyak yang dari wilayah lain, bahkan dari luar Pulau Jawa. Hal itu membuat
para penerus gudeg Bu Tjitro akhirnya
memilih untuk menjual secara online dan offline.
Dalam model
marketing online Bu Tjitro memilih beberapa sosial media yang dirasa dapat
mengembangkan bisnisnya sampai ke tingkat global. Misalnya seperti facebook
dengan nama akun “Gudeg Kaleng Bu Tjitro”, website dengan alamat http://www.pusatgudegkaleng.info. Di dalam website tersebut juga tertera berbagai contack person
yang dapat dihubungi untuk pemesanan gudeg. Kemudian pesanan gudeg akan
dikirimkan melalui agen-agen yang telah bekerjasama dengan gudeg Bu Tjitro
seperti JNE, TiKi, Pos Indonesia, dan GOJEK. Hal ini tentu mempermudah para
konsumen untuk tetap mendapatkan pelayanan tanpa harus repot datang ke
restoran.
Selain online
Bu Tjitro juga menggunakan model pemasaran offline yaitu pertama saat para
konsumen datang langsung ke restoran. Para konsumen akan disuguhkan dengan
berbagai aneka macam gudeg yang dijual, bagi konsumen yang penasaran dengan
proses pembuatan gudeg maupun proses pengalengannya, dari pihak Bu Tjitro akan
dengan senang hati menjelaskan dan mempromosikan gudeg tersebut. Kedua selain
di restoran Bu Tjitro juga memasarkan produknya diberbagai supermarket di
wilayah Jogja dan sekitarnya sebagai oleh-oleh khas Jogja.
D.
TENAGA KERJA
Sebuah perusahaan supaya operasionalnya bisa berjalan dengan lancar
sebaiknya membuat struktur organisasi, supaya para pegawai atau tenaga kerjanya
memiliki bagian tugasnya masing-masing dan dapat bekerja secara maksimal. Gudeg
Bu Tjitro sendiri yang berada dibawah naungan CV. Citra Buana Sejahtera
memiliki struktur organisasi yang terdiri dari owner atau pemilik
sebagai pemilik kedudukan tertinggi kemudian dibawahnya adalah direktur dan
direktur ini membawahi manager operasional. Manager operasional sendiri
membawahi beberapa pegawai seperti driver, manager pemasaran, manager
administrasi keuangan, manager produksi, dan quality controller. Manager
produksi juga membawahi beberapa pegawai juga seperti cook dan cook
helper. Dengan struktur organisasi yang demikian dapat dilihat bahwa posisi
staf adalah sebagai intrapeneur. Intrapreneur ini sendiri adalah karyawan,
bekerja pada orang lain, memiliki atasan, namun yg di cari adalah kemerdekaan
dan akses terhadap resources, dan orang tersebut memiliki jiwa kewirausahaan.
|
Owner/pemilik
|
|
Cook Helper
|
|
Direktur
|
|
Driver
|
|
Manajer Operasional
|
|
Manajer Pemasaran
|
|
Manajer
Administrasi
Keuangan
|
|
Manajer Produksi
|
|
Cook
|
|
Quality
Controller
|
|
Cook Helper
|
BAB III
BIOGRAFI OWNER
A.
DATA PRIBADI OWNER
Sragen mungkin bukan kota yang identik dengan gudeg, tapi bukan
berarti ibu Jatu Dwi Kumalasari yang lahir di Sragen 7 Januari 1980 ini tidak memiliki kesempatan untuk menjadi
penngusaha gudeg. Ibu Jatu mengawali karirnya dengan berbekal Imu Manajemen
yang didapatkan saat beliau menempuh pendidikan di STIE YKPN.
Awalnya sebelum memilih untuk kuliah jurusan Manajemen, beliau
hanya diberi dua pilihan oleh kedua orangtuanya yaitu untuk mengambil jurasan
kedokteran atau ekonomi saja. Karena pekerjaan ayahnya terdahulu adalah seorang
doter sedangkan ibunya sebagai pengusaha. Kedua orangtuanya berharap agar Bu
Jatu dapat meneruskan salah satu pekerjaan orangtuanya. Akhirnya Bu Jatu
memilih meneruskan bisnis ibunya yaitu gudeg Bu Tjitro.
Kesuksesan Bu Jatu tidak semata-mata karena usahanya sendiri, namun
juga berkat dukungan suami dan anak-anaknya. Pernikahan yang dilakukan pada
tanggal 13 Agustus 2005 dengan Ikhwan Sholihan dikaruniai tiga orang anak yaitu
Farel, Fakhrizal, dan Fadel..
B.
MOTIVASI USAHA
Banyak orang beranggapan kesuksesan itu berawal dari sebuah hobi
yang ditekuni. Hal ini memang nyata dialami oleh Bu Tjitro. Berdasarkan
informasi yang kami peroleh dari Pak Jumirin (juru bicara), Bu Tjitro merintis
usaha gudegnya berawal dari hobi memasak. Kelihaiannya dalam memasak telah
menghasilkan beberapa menu makanan. Namun yang lebih ditekankan oleh beliau adalah
makanan tradisional.
Mengingat keterbatasan modal dan juga peralatan, beliau akhirnya
memutuskan untuk berjualan gudeg. Gudeg adalah salah satu kuliner tradisional
yang tak hanya digemari oleh masyarakat Jogja melainkan juga para wisatawan. Disamping
itu, Bu Tjitro juga ingin mengembalikan citra rasa nusantara yang mulai pudar
seiring berjalannya waktu. Motivasi tersebut sesuai sekali dengan motto beliau
“unggul dalam menu gudeg dan istimewa dalam menu nusantara”.
Ketika memulai suatu usaha, tentunya tidak terlepas dari adanya
rasa takut akan kegagalan. Hal ini awalnya menjadi momok bagi Bu Tjitro, beliau
takut jika nantinya tidak bisa balik modal ataupun kalah saing dengan usaha
kuliner modern sehingga kebutuhan ekonomi keluarganya semakin mencuat. Namun ketekadan
yang ada dalam diri Bu Tjitro berhasil menghempaskan rasa takut tersebut.
Keahlian tangan Bu Tjitro dalam meracik bumbu gudeg tak bisa
dipungkiri lagi. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin banyaknya pelanggan
yang mengonsumsi gudeg Bu Tjitro yang dijual didepan halaman rumah dan juga
pasar ngasem. Berkat hal itu pula semangat beliau kian bertambah untuk
memajukan usahanya.
Kenyataan tersebut membuat Bu Jatu Dwi Kumalasari yang merupakan
generasi keempat merasa termotivasi dan tertantang untuk terus mengembangkan
Restoran Bu Tjitro 1925. Dengan adanya inovasi gudeg kaleng, Bu Jatu ingin
menjadikan usaha warisan turun-temurun Gudeg Bu Tjitro tidak gulung tikar.
C.
PRESTASI RESTORAN BU TJITRO 1925
1.
UPT BPPTK LIPI
Ini merupakan
apresiasi dari LIPI atas kerjasamanya dengan Restoran Bu Tjitro 1925. Bu Jatu
Dwi Kumalasari memulai kerjasama dengan Unit Pelaksana Teknis Balai
Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (UPT
BPPTK LIPI) Yogyakarta pada tahun 2009. Beliau melakukan uji coba agar gudeg
kaleng bisa sesuai seperti apa yang diinginkannya baik dalam hal rasa dan juga
bebas dari bahan pengawet. Uji coba ini memakan waktu hingga dua tahun. Pada
tahun 2011 gudeg kaleng ini sudah bisa diproduksi secara massal.
2.
Kartini Awards 2012
Dalam ajang
Kartini Awards ini, Bu Jatu Dwi Kumalasai mendapat penghargaan dalam kategori perempuan
Indonesia terinspiratif dalam bidang bisnis usaha. Disaat dunia bisnisnya
berada dalam keadaan yang kurang baik, Bu Jatu berani mengeluarkan terobosan
baru yang bagi kebanyakan orang sebagai sesuatu yang mustahil. “Gudeg kaleng”
tak sedikit orang yang menertawakan ide tersebut. Mana mungkin makanan yang
tidak mempunyai daya simpan lama bisa bertahan selama satu tahun bahkan dua
tahun kecuali jika menggunakan bahan pengawet.
Cercaan
tersebut tidak membuat semangat beliau pudar justru membuat Bu Jatu bertekad
membuktikannya. Beliau tidak ingin usaha yang susah payah didirikan oleh
eyangnya itu mengalami gulung tikar. Akhirnya berkat tekad dan kerja keras,
beliau mampu memproduksi gudeg kaleng secara massal dengan uji coba yang telah
dilakukannya bersama LIPI. Produksi kaleng ini tak hanya dalam lingkup nasional
tetapi juga mancanegara. Hal ini tentu menjadi inspirasi dan patut mendapat
apresiasi dari Kartini Awards tahun 2012 lalu.
3.
IDEALIFE (Home Innovation
Japan)
Restoran Bu
Tjitro 1925 mendapat penghargaan dari Idealife sebagai Juara Kuliner Indonesia.
Penghargaan ini tak hanya ditujukan pada menu tradsionalnya saja, melainkan
juga keunikan yang dimiliki oleh Restoran yang sudah berdiri selama kurang
lebih 91 tahun ini.
Restoran Bu
Tjitro 1925 berkomitmen untuk menggarap makanan sebaik mungkin dengan bahan-bahan
yang terbilang premium namun mampu menciptakan cita rasa yang berkelas. Apalagi dengan adanya bentuk penghargaan ini,
maka Restoran Bu Tjitro bersaing dengan restoran lain dengan menekankan pada
keunikan kaleng yang bisa membuat gudeg tahan lama dan dinikmati oleh para
wisatawan sebagai oleh-oleh.
4.
Koki Cilik Trans 7
Acara Koki Cilik Trans 7 adalah salah satu media massa yang
digunakan oleh Restoran Bu Tjitro 1925 sebagai ajang promosi. Acara tersebut
mengulas tentang produk gudeg kaleng, seperti komposisi gudeg kaleng, alasan
dapat tahan lama hingga satu tahun tanpa bahan pengawet, dengan siapa gudeg Bu
Tjitro melakukan kerjasama pengalengan, berapa banyak produksi yang dibuat,
serta mengulas tentang inovator gudeg kaleng yaitu Jatu Dwi Kumalasari.
Disamping
sebagai ajang promosi, Restoran Bu Tjitro 1925 juga mendapat apresiasi dari
acara Koki Cilik Trans 7 berkat keunikan produk serta usia Restoran yang sudah
terbilang lama namun masih berkelas.
Selain prestasi-prestasi diatas, Restoran Bu Tjitro 1925 juga
memiliki beberapa kenang-kenangan sebagai bukti kunjungan dari berbagai lembaga
formal. Berikut ini adalah kenang-kenangan yang berhasil kami dokumentasikan :
D.
MENYIKAPI KEBERHASILAN USAHA
Usaha gudeg kaleng Bu Tjitro ini memang bisa dibilang sudah sangat
sukses. Dengan pendapatan 250 juta setiap bulanya tentunya sudah sangat cukup
untuk memenuhi kebutuhan owner dan para pegawainya. Namun bukan berarti
kesuksesan ini membuat owner merasa sombong dan lupa bahwa dibalik kesuksesan
usaha gudeg kaleng Bu Tjitro ini tentu
berkat dan rahmat Allah SWT. Kata owner sesuai dengan firman Allah yang terdapat di dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7 sebagai berikut :
وَإِذْ
تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ
وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya : Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu,
dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
“Dari ayat tersebut sudah sangat jelas bahwa kita sebagai umat
Islam harus selalu bersyukur dengan apa yang kita dapatkan, apalagi dalam hal
ini sebuah kesuksesan yang sangat besar, tentu kita harus selalu bersyukur.”
Jelas Pak Jumirin selaku juru bicara.
Oleh sebab itu cara owner untuk memperlihatkan rasa syukurnya salah
satunya adalah dengan rutin mengeluarkan zakat baik zakat fitrah maupun zakat
mal serta tidak lupa memberikan sadaqah kepada orang-orang yang membutuhkan.
Kesuksesan yang didapat tidak lantas membuat owner merasa cukup
sampai disitu dan tidak ingin berkembang lagi. Namun beliau berusaha mencari
inovasi-inovasi baru lagi untuk memperbanyak usahanya agar bisa menjadi makin
luas.
E.
MENYIKAPI KEGAGALAN USAHA
Dalam setiap usaha tentunya terdapat pasang surut, begitu juga
dengan usaha gudeg kaleng Bu Tjitro. Kegagalan tentunya pernah dialami owner
meskipun jika dilihat sekarang kesuksesannya tentu sudah membuat semua orang
lupa akan masa-masa kegagalan. Sebagai contoh, dahulu saat gudegnya sempat kurang
dapat perhatian dari konsumen, owner merasa bingung harus mencari inovasi
seperti apa untuk mengembangkan kembali gudeg Bu Tjitro ini. Kemudian owner
berusaha mencari informasi-informasi baru diinternet kemudian menemukan
informasi bahwa LIPI sedang melakukan penelitian untuk membuat makanan dalam
kaleng, disitulah akhirnya muncul inovasi baru dan membuat gudeg kaleng Bu
Tjitro menjadi idola lagi di hati konsumennya.
Dilihat dari contoh diatas dapat mengambil kesimpulan bahwa owner
dalam menyikapi kegagalan dalam usahanya adalah dengan berusaha mencari tahu
terlebih dahulu apa sebenarnya kendala-kendala yang membuatnya gagal. Kemudian
berusaha untuk mencari solusi dalam menyelesaikan kendala-kendala yang ada.
Oleh sebab itu, menurut owner kendala di dalam perushaannya dapat
dikelompokan menjadi tiga hal yaitu, kendala pasar; modal; dan SDM (Sumber Daya
Manusia). Kendala pasar yang dimaksud adalah para konsumen dan pemasaran, dan
cara menyikapinya dengan memperbaiki model marketing yaitu yang dulu dengan
direct selling sekarang dengan model online dan offline. Kemudian kendala modal.
Modal itu tentunya adalah hal yang sangat diperlukan dalam sebuah usaha, jika
tidak ada modal sebuah usaha tidak akan mampu memproduksi apa yang akan
diusahakannya. Oleh sebab itu owner mencoba mengatasinya dengan bergabung
dengan CV. Citra Buana Sejahtera sebagai mitra usaha khususnya dalam hal
permodalan. Selanjutnya kendala SDM dimana tidak semua SDM bisa mengerjakan hal
yang berhubungan dengan bisnis, oleh sebab itu pengelolaan SDM juga menjadi
salah satu yang mendapat pengawasan dan penyeleksian yang ketat. Apalagi yang
berhubungan dengan pengolahan gudeg sendiri ataupun pengalengan, orang-orang yang
bekerja disana harus memiliki pengetahuan tentang pangan itu sendiri.
BAB IV
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang kami lakukan
mengenai usaha gudeg kaleng Bu Tjitro, dapat ditarik kesimpulan bahwa usaha
tersebut termasuk jenis usaha kuliner nusantara yang menjadi salah satu pilihan
masyarakat Indonesia khususnya wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Alasan
pemilihan menu gudeg sendiri memang diambil oleh Bu Tjitro karena beliau
memiliki hobi untuk memasak gudeg, sehingga menu gudeg itulah yang dipilih
sebagai usahanya.
Pasang surut
dalam bisnis juga dirasakan oleh owner, namun karena kegigihannya dan sikap
pantang menyerahnya segala kesulitan yang dihadai selama merintis usaha gudeg
ini dapat diselesaikan. Contohnya adalah saat omset gudeg mengalami kemerosotan
dikarenakan berkurangnya minat konsumen, membuat owner harus mencari solusi dan
ide lain agar gudegnya dapat menjadi idola masyarakat lagi. Kemudian munculah
ide yaitu bekerja sama dengan LIPI untuk membuat gudeg dalam kemasan kaleng.
Setelah berhasil melakukan percobaan untuk pembuatan gudeg kemasan kaleng, omset
yang didapatkan sangat besar. Karena dalam sekali produksi mampu membuat sampai
500 kaleng setiap harinya.
Model pemasaran
atau marketing yang digunakan juga disesuaikan dengan kebutuhan, yaitu dari
yang dulunya hanya direct selling atau penjualan langsung dari produsen ke
konsumen tanpa melalui perantara, kini diganti dengan model online dan offline
sesuai kebutuhan masyarakat yang tidak banyak memiliki waktu untuk datang
langsung ke Restoran maupun otlet gudeg Bu Tjitro.
2.
Jika dilihat dari profil owner, Ibu Jatu Dwi Kumalasari sendiri
awalnya tidak memiliki gambaran akan meneruskan bisnis eyangnya. Namun karena
amanat dari orang tuanya, owner akhirnya bersedia untuk meneruskan. Dengan ilmu
yang didapatkan selama menempuh pendidikan manajemen di YKPN membuat owner
merasa mampu untuk mengembangkan kembali binis keluarganya ini. Selain itu
semangat sang eyang saat dahulu masih mampu berjualan gudeglah yang membuat
owner merasa perlu untuk menirunya.
B.
MOTIVASI DIRI
Setelah melakukan observasi dan wawancara dengan pengusaha gudeg
kaleng Bu Tjitro membuat kami menyadari bahwa ada begitu banyak hal yang
memotivasi kami untuk menjadi seorang enterpreneur yang sukses. Hal-hal
tersebut antara lain :
1.
Pemilihan usaha harus disesuaikan dengan hobi agar selama menjalankan
usaha tersebut selalu dengan senang hati.
2.
Jangan pernah bosan untuk selalu mencoba dan mencoba lagi, jika
dengan cara ini gagal dicoba untuk mencari cara lain.
3.
Harus selalu sabar dan bekerja keras karena disetiap usaha pasti
akan ada kendala, namun jangan jadikan itu sebagai penghalang justru jadikan
kendala tersebut sebagai alasan kita untuk maju.
4.
Senantiasa mencari inovasi-inovasi baru yang berbeda agar usaha
kita memiliki keunikan tersendiri dan berbeda dengan yang lainnya. Karena
dengan keunikan tersebut nantinya kita akan memiliki kesan dihati konsumen.
5.
Senantiasa mencari informasi bisnis yang mungkin berhubungan dengan
usaha kita.
6.
Jika sudah sukses jangan pernah lupa untuk bersyukur karena
bagaimanapun juga kesuksesan kita adalah berkat rahmat dari Allah SWT.


0 komentar:
Posting Komentar