INAYAH Blogger templates

Tempat Berbagi Kebahagiaan
  • Enter Slide 1 Title Here

    This is slide 1 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...

  • Enter Slide 2 Title Here

    This is slide 2 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...

  • Enter Slide 3 Title Here

    This is slide 3 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...

Sabtu, 18 Februari 2017

Kasus-Kasus Pelanggaran dalam Proses Konseling

Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Kode Etik Konseling

Ketua     : Ihda Ainul Aziz                    (15220038)      Absen  : 28
Notulen  : Salma Husniyati                    (15220015)      Absen  : 14
Anggota : 1. Vivi Rinardi                      (15220007)      Absen  : 08
                 2. Rafida                               (15220008)      Absen  : 09
                 3. Nur Inayah                        (15220033)      Absen  : 25
                 4. Bima Krisbiantoro             (15220029)      Absen  : 22

Dosen Pembimbing     : Drs. H. Abdullah, M.Si.


PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Konseling adalah proses pemberian bantuan dari seorang konselor kepada klien untuk membantu menyelesaikan masalah. Konselor termasuk salah satu profesi yang kini banyak diminati dan dicari keberadaannya. Selayaknya profesi lainnya, konselor juga memiliki aturan-aturan yang disebut kode etik konseling. Tujuannya untuk mengatur dan menghindari pelanggaran-pelanggaran yang mungkin terjadi.
Adanya pelanggaran-pelanggaran ataupun penyalahgunaan profesi konselor di sekolah meyebabkan citra konselor di sekolah saat ini masih belum bisa dikatakan baik. Banyak hal yang melatar belakangi buruknya citra konselor di sekolah, mulai dari sikap konselor dan tugas konselor yang memang kurang jelas dan disalah gunakan oleh pihak sekolah itu sendiri. Konselor yang bertugas sebagai “polisi sekolah” dan menjadi momok menakutkan bagi siswa-siswanya, terutama siswa-siswa yang sering melakukan pelanggaran dan “nakal”.
Adanya konselor yang berasal bukan dari lulusan Bimbingan dan Konseling membuat kondisi BK di sekolah semakin memprihatinkan, dan adanya konselor sekolah yang memang dari lulusan BK namun kurang menjunjung tinggi kode etik profesinya membuat keberadaan konselor kurang diperhitungkan dan dianggap tidak penting bagi para siswanya sendiri. Karenanya penting bagi para konselor sekolah benar-benar memperjuangkan agar citranya menjadi positif dan dapat benar-benar bermanfaat bagi para siswa dan seluruh warga ssekolah sesuai dengan tugas sebenarnya sebagai konselor. Dengan penegakan kode etik konselor diharapkan dapat memperbaiki kembali citra buruk konselor yang ada selama ini.
B.       Rumusan Masalah
1.         Apa yang dimaksud kode etik?
2.         Apa saja kode etik dalam bimbingan dan konseling?
3.         Apa saja dasar kode etik profesi bimbingan dan konseling?
4.         Apa saja bentuk pelanggaran yang sering terjadi dalam proes konseling?
5.         Bagaimana sanksi pelanggaran dan mekanisme penerapan sanksi bagi konselor yang melanggar kode etik?
6.         Apa contoh kasus pelanggaran dalam proses konseling?
C.      Tujuan Penulisan
1.         Mengetahui apa yang dimaksud kode etik.
2.         Mengetahui kode etik dalam proses konseling.
3.         Mengetahui dasar kode etik profesi bimbingan dan konseling.
4.         Mengetahui bentuk pelanggaran yang sering terjadi dalam proses konseling.
5.         Mengetahui sanksi pelanggaran dan mekanisme penerapan sanksi bagi konselor yang melanggar kode etik.
6.         Mengetahui contoh kasus pelanggaran dalam proses konseling.
 BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Kode Etik[1]
Etika terbagi atas dua, yaitu (1) etika umum (2) etika khusus. Etika umum, masih dibagi lagi menjadi: (a) Prinsip etika umum dan (b) moral dasar etika umum. Adapun etika khusus, merupakan terapan etika, dibagi menjadi: (a) etika individual dan (b) etika sosial. Etika sosial yang hanya berlaku bagi kelompok profesi tertentu disebut kode etika atau kode etik.
Sumaryono (1995) menjelaskan, bahwa kode etik adalah hasil usaha pengarahan kesadaran moral para anggota profesi tentang persoalan-persoalan khusus yang dihadapinya, kode etik ini  mengkristalisasikan pandangan moral dan memberi ketegasan perilaku yang sesuai dengan lapangan khusus.
Kode etik adalah sistem norma, nilai, dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional. Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari.
Tujuan kode etik adalah agar profesional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada klien/kosumen/pemakai/user/nasabah/pasien. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak profesional.[2]
B.       Kode Etik dalam Bimbingan Konseling
Etika profesi bimbingan dan konseling adalah kaidah-kaidah perilaku yang menjadi rujukan bagi konselor dalam melaksanakan tugas atau tanggung jawabnya memberi layanan bimbingan dan konseling kepada konseli.
Kode etik bimbingan dan konseling Indonesia merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku profesional yang dijunjung tinggi, diamalkan dan diamankan oleh setiap anggota profesi bimbingan dan konseling Indonesia. Kode etik bimbingan dan konseling Indonesia wajib dipatuhi dan diamalkan oleh pengurus dan anggota organisasi tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota.[3]
Dengan adanya kode etik di dalam bimbingan konseling dimaksudkan agar bimbingan dan konseling tetap dalam keadaan baik dan diharapkan menjadi semakin baik, lebih-lebih di Indonesia di mana bimbingan dan konseling masih relatif baru. Kode etik ini mengandung ketentuan-ketentuan yang tidak boleh dilanggar ataupun diabaikan tanpa membawa akibat yang tidak menyenangkan.[4]
Kode etik bimbingan dan konseling, antara lain:[5]
1.         Pembimbing atau pejabat lain yang memegang jabatan dalam bidang bimbingan dan konseling harus memegang teguh prinsip-prinsip bimbingan dan konseling.
2.         Pembimbing harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mencapai hasil yang sebaik-baiknya, dengan membatasi diri pada keahliannya atau wewenangnya. karena itu pembimbing jangan sampai mencampuri wewenang serta tanggung jawab yang bukan wewenang serta tanggung jawabnya.
3.         Oleh karena pekerjaan pembimbing berhubungan langsung dengan kehidupan pribadi orang maka seseorang pembimbing harus :
a)        Dapat memegang atau menyimpan rahasia klien dengan sebaik-baiknya.
b)        Menunjukkan sikap hormat kepada klien.
c)        Menghargai sama terhadap bermacam-macam klien. Jadi di dalam menghadapi klien pembimbing harus menghadapi klien dalam derajat yang sama.
4.         Pembimbing tidak diperkenankan :
a)        Menggunakan tenaga pembantu yang tidak ahli atau tidak terlatih.
b)        Menggunakan alat-alat yang kurang dapat dipertanggungjawabkan.
c)        Mengambil tindakan-tindakan yang mungkin akan menimbulkan hal-hal yang tidak baik bagi klien.
d)       Mengalihkan klien kepada konselor lain tanpa persetujuan klien.
5.         Meminta bantuan kepada ahli dalam bidang lain di luar kemampuan ataupun di luar keahlian stafnya yang diperlukan dalam bimbingan dan konseling.
6.         Pembimbing haruslah selalu menyadari akan tanggung jawabnya yang berat yang memerlukan pengabdian sepenuhnya.
Prinsip-prinsip dan kode-kode etik seperti dikemukakan di atas itu mempunyai hubungan yang erat satu dengan yang lain, yang tidak dapat dilepaskan satu dari yang lainnya apabila hendak mencapai tujuan bimbingan dan konseling dengan sebaik-baiknya.
C.      Dasar Kode Etik Profesi Bimbingan dan Konseling[6]
1.      Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
2.      Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional.
3.      Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Pasal 28 ayat 1, 2, dan 3 tentang standar pendidik dan tenaga kependidikan).
4.      Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 27 tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor.
5.      Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.
D.      Bentuk Pelanggaran yang Sering Terjadi[7]
1.         Terhadap Konseli
a.         Menyebarkan/membuka rahasia konseli kepada orang yang tidak terkait dengan kepentingan konseli.
b.        Melakukan perbuatan asusila (pelecehan seksual, penistaan agama, rasialis).
c.         Melakukan tindak kekerasan (fisik dan psikologis) terhadap konseli.
d.        Kesalahan dalam melakukan praktik profesional (prosedur, teknik, evaluasi, dan tindak lanjut).
2.         Terhadap Organisasi Profesi
a.         Tidak mengikuti kebijakan dan aturan yang telah ditetapkan oleh organisasi profesi.
b.        Mencemarkan nama baik profesi (menggunakan organisasi profesi untuk kepentingan pribadi dan atau kelompok).
3.        Terhadap Rekan Sejawat dan Profesi Lain yang Terkait
a.         Melakukan tindakan yang menimbulkan konflik (penghinaan, menolak untuk bekerja sama, sikap arogan).
b.        Melakukan referal (rekomendasi) kepada pihak yang tidak memiliki keahlian sesuai dengan masalah konseli.
E.       Sanksi Pelanggaran dan Mekanisme Penerapan Sanksi[8]
1.         Sanksi Pelanggaran
Konselor wajib mematuhi kode etik profesi bimbingan dan konseling. Apabila terjadi pelanggaran terhadap kode etik profesi bimbingan dan konseling maka diberikan sanksi sebagai berikut:
a.         Memberikan teguran secara lisan dan tertulis.
b.        Memberikan peringatan keras secara tertulis.
c.         Pencabutan keanggotaan ABKIN (Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia).
d.        Pencabutan lisensi.
e.         Apabila terkait dengan permasalahan hukum/kriminal maka akan diserahkan pada pihak yang berwenang.
2.         Mekanisme Penerapan Sanksi
Apabila terjadi pelanggaran seperti yang tercantum diatas, maka mekanisme penerapan sanksi yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a.         Mendapatkan pengaduan dan informasi dari konseli dan atau masyarakat.
b.        Pengaduan disampaikan kepada dewan kode etik tingkat daerah.
c.         Apabila pelanggaran yang dilakukan masih ringan maka penyelesaiannya dilakukan oleh dewan kode etik tingkat daerah.
d.        Pemanggilan konselor yang bersangkutan untuk verifikasi data yang disampaikan oleh konseli dan atau masyarakat.
e.         Apabila berdasarkan hasil verifikasi yang dilakukan oleh dewan kode etik daerah terbukti kebenarannya maka diterapkan sanksi sesuai dengan masalahnya.
F.       Contoh Kasus Pelanggaran dalam Proses Konseling
DH seorang gadis berumur 16 tahun dia merupakan siswi kelas II di sebuah sekolah swasta yang cukup elite. DH gadis yang cukup cantik dikalangan teman-temannya. Orang tuanya cukup kaya dibanding dengan teman satu sekolahnya. Gadis ini merupakan anak kedua dari 2 bersaudara. Ayah DH bekerja di bidang pertambangan, oleh karena tuntutan pekerjaan, ayah DH harus bekerja sebulan penuh di luar pulau dan kemudian cuti selama 2 minggu sesudahnya. Ibu DH bekerja sebagai seorang guru SMP di kotanya. Ibu DH bekerja hingga tengah hari, sering DH dijemput dan pulang bersama Ibunya mengendarai motor ibunya. Dan kakak laki-laki DH menuntut ilmu di Perguruan Tinggi di lain kota, dan kakak DH pulang pada saat libur akdemik.
DH mempunyai fasilitas belajar yang lebih. Tidak pernah DH merasa sangat kekurangan. DH gadis yang sangat disukai di sekolahnya, oleh karena cantik dan kaya. Namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang menarik dari DH selain kecantikan, kekayaan, dan sikap mudah bergaul dengan orang lain.
DH seperti halnya remaja pada umumnya, yang masih bersenang-senang dan belum memikirkan resiko-resiko atas tindakannya. DH mempunyai handphone dengan fitur canggih dilengkapi kamera dan pemutar video digital. Dari handphone ini DH sering menonton film biru –porno, yang didapat dari teman-temannya atau dari internet. Selain itu DH juga sering mengakses film porno di internet. Seolah DH sudah mulai kecanduan film porno yang digemari bersama teman-temannya.
DH remaja yang mersakan cinta pertama, dia mempunyai pacar seorang mahasiswa tingkat awal disebuah perguruan tinggi di kotanya. Oleh cinta pertama ini DH berani banyak berkorban umtuk hubungannya, dia pernah melakukan hubungan seksual dengan pacarnya dirumah pacarnya, saat orang tuanya pergi.
Perubahan banyak terjadi pada DH, DH sering membolos dari sekolah, dan pacaran dirumahnya yang dalam keadaan sepi, atau ditempat-tempat wisata yang menyediakan tempat penginapan. Bahkan pada akhir mimggu DH berbohong pada orang tuanya dengan alasan pergi kerumah teman wanitanya ternyata pergi bersama pacarnya. DH sudah mulai kecanduan pada hubungan suami istri.
DH mengalami kemunduran dalam prestasi belajarnya, di kelas sering melamum, dan terlihat susah konsentrasi. Saat melamun DH tampak kuatir. Dia lebih sering mencoret-coret buku catatannya , sehingga sering tidak memperhatikan pelajaran yang diikutinya. Oleh karena itu DH sering mengerjakan PR saat pagi hari di sekolah dengan meminjam pekerjaan temannya, juga sering mengerjakan tugas yang diberikan guru.
Suatu saat DH merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan selama ini. Dia ingin bertaubat dan merubah perilakunya. Dia berinisiatif untuk melakukan konseling dengan datang kepada seorang konselor dengan harapan mendapatkan solusi. Namun kenyataannya saat proses konseling DH mendapat perlakuan yang tidak sopan dari konselornya berupa pelecehan seksual. Konselor tersebut tidak dapat menahan nafsunya ketika melihat kecantikan DH.
Di sini lah letak pelanggaran dalam proses konseling. Seharusnya konselor menjaga harkat dan martabat klien sekaligus memberikan solusi terhadap masalah kien. Bukan melakukan pelecehan seksual yang dapat menambah trauma pada klien tersebut.
BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Kode etik adalah sistem norma, nilai, dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi professional. Setiap profesi memiliki kode etik begitu juga dalam proses konseling. Dalam kode etik konseling sudah dijelaskan begitu rinci mengenai aturan yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan oleh konselor baik terhadap klien, organisasi profesinya, maupun rekan sejawat sesama konselor.
Namun pada kenyataannya pelanggaran pada proses konseling masih kerap terjadi, walaupun sanksi-sanksi tegas sudah diberlakukan. Untuk itu kita sebagai calon konselor harus lebih memahami dan memaknai kode etik dengan sebenar-benarnya agar kasus-kasus pelanggaran kelak tidak terjadi lagi.




[1] Yadi Purwanto, Etika Profesi Psikologi Profeti, (Bandung: PT Refika Aditama), hlm. 47.
[2] Ibid., hlm. 48.
[3] Annisa Usholeha, “Etika Profesi Bimbingan dan Konseling”, http://annisainspirasi.blogspot.co.id/2011/11/etika-profesi-bimbingan-konseling.html, diakses pada tanggal 09 April 2016 pukul 11.47 WIB
[4] Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling (Studi & Karir), (Yogyakarta: CV. Andi Offset), hlm. 36.
[5] Ibid., hlm. 37.
[6] Andi Mappiare, Pengantar Konseling dan Psikoterapi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), hlm. 181.
[7] Widia Astuti, “Kasus-Kasus Pelanggaran Etika Profesi BK”, http://widiaanggara.blogspot.co.id/2014/06/makalah-kasus-kasus-pelanggaran-etika.html, diakses pada tanggal 09 April 2016 pukul 10.30 WIB
[8] Ibid.
Posted by nur isnaeni on 06.01 in    No comments »
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSELING LINTAS AGAMA DAN BUDAYA
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas
Mata kuliah Konseling Lintas Agama dan Budaya
Dosen Pembimbing : Dr. Irsyadunnas, S.Ag., M.Ag



Disusun oleh :
1.      Nur Inayah                  (15220033)
2.      Amelia Julitasari          (15220044)
3.      Indra Gunawan           (15220065)



BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2016

 BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Sesuai dengan kodrat yang dimiliki oleh manusia bahwa manusia diciptakan sebagai individu dan mahkluk sosial. Sebagai individu, manusia diciptakan dengan mempunyai ciri yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Dengan demikian, manusia atau individu dapat dikenali oleh orang lain dengan mengenal ciri ciri tertentu yang dimilikinya.
Dalam keadaan hidup bersama ini masyarakat menciptakan sesuatu yang dapat dijadikan sebagai pedoman hidup. Sesuatu yang diciptakan itu bisa berupa benda¬-benda (artifak), peraturan dan nilai nilai yang dipakai secara kolektif. Dengan mempergunakan kematangan dirinya, maka masyarakat tersebut menciptakan suatu bentuk budaya tertentu. Spesifikasi budaya yang dimiliki oleh masyarakat tertentu akan berbeda dengan budaya yang dimiliki oleh masyarakat lainnya (Herr, 1999). Dengan demikian, budaya akan dapat dipakai sebagai salah satu cara untuk mengenal masyarakat tertentu (Goldenweiser, 1963; Vontress, 2002).[1]
Oleh sebab itu didalam konseling lintas agama dan budaya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi yang harus diketahui baik oleh konselor maupun klien agar konseling dapat berjalan dengan lancar.







B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja faktor yang mempengaruhi Konseling Lintas Agama dan Budaya?
2.      Apa saja faktor yang terkait dengan Konselor?
3.      Apa saja faktor yang terkait dengan Klien?
C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi Konseling Lintas Agama dan Budaya.
2.      Untuk mengetahui apa saja faktor yang terkait dengan Konselor.
3.      Untuk mengetahui apa saja faktor yang terkait dengan Klien.

















BAB II
PEMBAHASAN


A.    Faktor yang Mempengaruhi Konseling Lintas Agama dan Budaya
1.      Persepsi
Persepsi/per·sep·si/ /persépsi/ n : tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu,  proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya.[2]
Adanya perbedaan persepsi budaya/agama , jika tidak disikapi dengan bijaksana, dapat berubah menjadi konflik, yang merugikan kedua pihak. Kemampuan seorang konselor dalam memahami persepsi budaya/agama yang berbeda menjadi penentu keberhasilan sebuah proses Konseling Lintas Agama dan Budaya.
2.      Emosi
Emosi/emo·si/ /émosi/ n : luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat. Keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan).[3]
Emosi menurut Wade dan Tavris (2007) adalah situasi stimulus yang melibatkan perubahan pada tubuh dan wajah, aktivitas pada otak, penilaian kognitif, perasaan subjektif, dan kecendrungan melakukan suatu tindakan yang dibentuk seluruhnya oleh peraturan-peraturan yang terdapat di suatu kebudayaan.
Menurut The American College Dictionary, (H. Djali, 2007) emosi adalah suatu keadaan afektif yag disadari dimana dialami perasaan seperti kegembiraan (joy), kesedihan, takut, benci, dan cinta (Dibedakan dari keadaan kognitif dan keinginan yang disadari), dan juga perasaan seperti kegembiraan (joy), kesedihan, taku, benci, dan cinta.
Sebenarnya banyak emosi spesifik, akan tetapi permasalahan emosi yang sering dijumpai dalam konseling adalah empat emosi dasar yaitu:
a.       Sakit Hati (Hurt)        
Rasa sakit hati (Hurt) adalah pengalaman yang dialami seseorang ketika terluka secara psikologis yang mengakibatkan gangguan mental, sehingga menimbulkan berbagai konflik dan rasa marah. Dalam proses konseling konselor dapat membantu klien untuk memberikan reaksi konstruktif terhadap rasa sakit hati dalam cara-cara pertumbuhan yang produktif. Hal itu dapat dilakukan dengan empat tahap yaitu: (1)Mengakui diri sakit hati, (2)Mencoba mencari arti dari rasa sakit hati itu, (3)Mencari serta menemukan penyebab sakit hati itu sendiri, (4)Melakukan upaya untuk menghindari perasaan sakit agar tidak terjadi di masa yang akan datang.
Konselor dapat mengajarkan tahapan-tahapan itu baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung konselor menuntun klien melampaui tahapan-tahapan sambil memberikan penjelasan serta alasan pentingnya hal itu. Secara tidak langsung konselor dapat melakukannya melalui penciptaan situasi konseling yang kondusif, sehingga klien senantiasa memperoleh kebahagiaan.
b.      Takut (Fear)
Rasa takut timbul dari antisipasi terhadap ancaman fisik atau psikologis spesifik. Ancaman psikologis merupakan sumber utama timbulnya rasa takut yang dibawa pada umumnya oleh klien ke dalam konseling.
Karena psikis seseorang memiliki sisi yang luas dalam upayanya untuk mempertahankan diri, maka manusia terbuka terhadap banyak ancaman, dan pada gilirannya akan mengalami bnayak takut. Ada empat ketakutan yang sering dibawa klien dalam proses konseling, yaitu: Takut terhadap keakraban, Takut terhadap penolakan, Takut terhadap kegagalan, Takut terhadap kebahagiaan
c.       Marah (Anger)
Banyak orang yang telah diajarkan bahwa marah itu merupakan suatu emosi negative, sehingga berusaha untuk menghapus atau menghindarinya.  Tugas konselor ialah membantu klien agar kemarahan itu menjadi lebih realistis dan mampu menyatakan marah dengan cara yang mengarah pada tindakan positif.
Marah disebabkan oleh dua hal, yaitu pertama terjadi saat adanya halangan dalam mencapai pemuasan suatu kebutuhan, dan kedua, terjadi ketika dalam proses pemenuhan kebutuhannya mendapat hambatan dari dirinya sendiri. Yang pertama kemudian berkembang menjadi bentuk marah kepada pihak lain, dan yang kedua menjadi marah pada diri sendiri. Tujuan marah pada pihak lain adalah menggerakkan individu memindahkan hambatan dalam pemenuhan kebutuhan, atau memindahkan orang dari situasi di mana kebutuhan tidak terpenuhi.
Konselor harus dapat megenali perbedaan kedua jenis kemarahan tersebut, agar dapat membantu klien dalam mengatasi masalah yang berkaitan dengan marah.
Ada beberapa manisfestasi marah terhadap diri sendiri dalam cara-cara deskruktif, yaitu: Depresi, Adiksi, Salah tempat dan orang, Perilaku serampangan, Pengorbanan, Canggung atau kikuk, Manisfestasi fisik, Degradasi perilaku.
Seperti halnya marah terhadap diri sendiri, marah terhadap pihak lain dapat dimansifestasikan dengan cara-cara deskruktif sebagai berikut: Moralism, Hostile Talk (Sindiran), Shutting Down (menjatuhkan orang lain, Purposeful Ineptness (ecanggungan bertujuan), Victimizing (membuat korban), Ambushing (penyerangan), Passivity (bersikap pasif), Getting Sick (menjadi sakit).
d.      Rasa Bersalah
Rasa bersalah adalah perasaan tidak nyaman/gundah atau malu pada saat seseorang melakukan kesalahan, keburukan, atau amoral. Konselor harus dapat membantu klien apabila merasakan rasa bersalah dan membantu mereka apakah rasa bersalah itu benar atau salah, kemudian menemukan cara yang tepat untuk menghindari masalah yang timbul. Konselor juga harus memahami adanya tiga macam rasa bersalah yaitu: (1)Rasa bersalah psikologis, (2)Rasa bersalah social, (3)Rasa bersalah religi
Hal penting bagi konselor adalah mengetahui perbedaan dari ketiga tipe rasa bersalah itu untuk membantu klien memecahkan masalah rasa bersalah. Rasa bersalah dapat terjadi secara sadar maupun tak sadar. Rasa bersalah yang tidak disadari mengakibatkan munculnya perilaku menghukum diri sendiri sebagai jalan untuk bertobat karena rasa bersalah tersebut. Dalam beberapa hal beberapa perilaku lebih bnayak dimotivasi oleh rasa bersalah yang tidak disadari, seperti berikut:
1)      Pendirian bahwa ada sesuatu yang salah dalam diri sendiri dan keragu-raguan.
2)      Menciptakan ketidak-puasan
3)      Psikosomatis atau gejala hipokondria
4)      Doronga kebutuhan yang berlebihan, dsb.[4]
3.      Kesadaran budaya
Hal yang sangat kompeten dalam komunikasi interkultural adalah pemahaman individu terhadap kebiasaan sosial (social customs) dan sistem sosial (social system) pada sekumpulan besar budaya (host cultural). Memahami bagaimana seseorang memikirkan dan berkelakuan tang esensiil (essential) untuk komunikasi yang efektif dengan mereka.
Rintangan-rintangan komunikasi (comunication barriers) interkultural menurut LaRay M. Barna (1997), menunjukan ada enam rintangan komunikasi interkultural, yaitu
a.       Kecemasan (anxiety)
Penghalang yang pertama adalah kecemasan yang tinggi. Ketika seseorang cemas karena tidak mengetahui apa yang harus dilakukan, kondisi semacam ini akan menghalangi seseorang dalam melakukan komunikasi interkultural. Seperti misalnya, seseorang mungkin akan mengalami kecemasan ketika memasuki kampus yang asingbaginya, atau pekerjaanyang asing baginya. Dalam kondisi cemas seperti ini seseorang mungkin akan berbuat kesalahan karena terlalu memusatkan perhatian agar tidak berbuat kesalahan, sehingga tampak canggung.
b.      Menganggap sama terhadap hal yang sebenarnya berbeda (assuming similarity instead of difference)
Rintangan yang kedua adalah menganggap sama terhadap hal yang sebenarnya berbeda. Jika seseorang yang pernah pindah dari suatu perguruan tinggi ke yang lain, mungkin mengalami rintangan ini. Pada perguruan tinggi pertama sebagai contoh, pendaftaran dilakukan dengan cara tertentu. Sedangkan pada perguruan tinggi lain dilakukan dengan cara yang lain pula. Oleh sebab itu anggapan yang sama dalam melakukan pendaftaran akan menyebabkan seseorang menjadi cemas dan melakukan kesalahan atau memerlukan banyak waktu ekstra, demikian pula dalam hal budaya, ketika seseorang mengasumsikan persamaan interkultural padahal sebenarnya kultur itu berbeda, mka mereka sebenarnya telah terjebak pada tingkatan tidak memperhatikan perbedaan.
c.       Etnosentrisme (ethnocentrism)
Rintangan yang ketiga bagi komunikasi interkultural yang efektif adalah etnosentris, yaitu secara negatif menghakimi bagian-bagian dari kultur lain dengan standar kultur diri sendiri. Sikap atau perilaku etnosentris timbul karena seseorang terlalu percaya akan keunggulan kultur diri sendiri dan memandang rendah kultur bentuk lain yang sedikit lebih ekstrim dari etnosentris ditandai dengan label “nearsighatedness”  budaya, yaitu mengira kultur diri sendiri menjadi induk yang diwarisi oleh kultur lain. Nearsighatedness budaya sering mengakibatkan seseorang membuat asumsi bahwa pemikiran yanng sederhana adalah sama dengan segala sesuatu dimana-mana. Sebagai contoh “eurocentric etnocentris”, seseorang hanya mengenali liburan barat disekolah yang mendasarkan kurikulum hanya pada sejarah barat, musik, dan seni. Istilah “Barat” dan “Timur” telah diberi label eurocen etnocentris. Asia adalah timur Eropa, tetapi untuk Asia “Timur” identitasnya tergatung pada Eropa.
Etnocentris ekstrim bisa berdampak negatif berupa mendorong seseorang ke arah penolakan kesempurnaan dan pengetahuan yang bersumber dari budaya lain. Hal itu bisa menyebabkan terhalangnya komunikasi dan merintangi pertukaran gagasan dan ketrampilan atar individu. Oleh sebab itu setiap individu yang cenderung bersikap etnocentris akan memiliki kecenderungan untuk menolak dan membatasi titip.
d.      Stereotip dan prasangka (stereotypes and prejudice)
Stereotip dan prasangka adalah suatu dinding penghalang bagi komunikasi interkultural. Istilah stereotip perluasan istilah yang umum digunakan untuk mengacu pada judgement negatif atau positif yang dibuat dan ditunjukan kepada individu-individu didasarkan pada beberapa pengamatan atau keyakinan anggota kelompok, dimana prasangka bekenaan dengan kebencian atau kecurigaan yang irasional terhadap suatu kelompok, ras, agama atau, orientasi seks. Istilah-istilah tersebut terkait dengan pembuatan judgement tentang individu-individu didasarkaan atas anggota kelompok.[5]




B.     Faktor yang Terkait dengan Konselor
1.      Faktor kesadaran
                                       a.        Kesadaran diri (inter/intra personal).
                                       b.        Kesadaran akan budaya/agamanya sendiri,
                                       c.        kesadaran akan adanya pengaruh kelas sosial (kaya/miskin) dalam masyarakat.
                                      d.        Kesadaran akan adanya perbedaan sikap dan prilaku individu,
                                       e.        kesadaran akan adanya kelompok budaya
                                        f.        Kesadaran akan keanekaragaman.
2.      Faktor Empati/Budaya
Empati budaya/agama: kemampuan seorang konselor untuk memahami permasalahan klien, dari sudut pandang:
                                          a.     Latar belakang budaya/agamanya,
                                          b.     Peka terhadap perasaannya,
                                          c.     Kondisi psikologisnya.
3.      Faktor Toleransi
Bagaimana seorang konselor bisa memahami berbagai perbedaan yang ada antara dia dengan klien, karena perbedaan itu bisa menjadi energi positif yang tak ternilai. 

C.    Faktor yang Terkait dengan Klien
1.    Pemahaman dan keyakinan terhadap agama  akan berpengaruh terhadap perilaku klien.
2.    Pemahaman terhadap budaya akan berpengaruh terhadap perilakunya sehingga  menentukan ciri khasnya sebagai individu yang berbeda dengan konselor.
3.    Pengaruh dari meningkatnya pemahaman terhadap agama dan budaya akan semakin meningkatnya saling toleransi, menghargai dan menerima diantara perbedaan individu.[6]
BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Dalam pembahasan diatas, kami dapat mengambil kesimpulan bahwa secara umum faktor yang mempengaruhi proses konseling lintas agama dan budaya dapat dibedakan menjadi 3, yaitu : persepsi, emosi dan kesadaran budaya. Persepsi adalah proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya. Emosi adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat. Dan kesadaran budaya adalah menyadari akan keberagaman budaya yang ada di lingkungan tempat hidup klien maupun konselor.
B.     Saran
            Dengan adanya faktor sebagai pemacu proses konseling, bukan berarti itu dijadikan sebagai alasan konselor untuk tidak dapat menangani masalah klien. Namun dijadikan sebagai wawasan tambahan konselor agar proses konseling berjalan dengan lancar. Untuk itu kami membuat makalah ini dengan harapan dapat digunakan oleh konselor untuk memahami lebih jauh tentang faktor-faktor yang mempengaruhi konseling lintas agama dan budaya.



DAFTAR PUSTAKA

Adhipura, Anak Agung Ngurah. 2013. Konseling Lintas Budaya. Yogyakarta: Graha Ilmu.
http://irsyadbki.wordpress/ Diakses pada Kamis, 17 Maret 2016 pukul 12.15 WIB.
http://kbbi.web.id/persepsi/ Diakses pada Kamis 17 Maret 2016 pukul 12.15 WIB.
http://kbbi.web.id/emosi/ Diakses pada Kamis 17 Maret 2016 pukul 12.15 WIB.
http://netpro20.blogspot.co.id/2011/02/emosi-dalam-konseling.html/ Diakses pada Kamis, 17 Maret 2016 pukul 12.15 WIB.



[1] http://konselorindonesia.blogspot.co.id/2010/11/konseling-lintas-budaya.html

[2] http://kbbi.web.id/persepsi/ Diakses pada Kamis 17 Maret 2016 pukul 12.15 WIB.
[2] http://kbbi.web.id/emosi/ Diakses pada Kamis 17 Maret 2016 pukul 12.15 WIB.



[5] Anak Agung Ngurah Adhipura, Konseling Lintas Budaya, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013),hlm.82-84
[6] http://irsyadbki.wordpress/ Diakses pada Kamis, 17 Maret 2016 pukul 12.15 WIB.
Posted by nur isnaeni on 00.27 in    No comments »

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter

Search